EjB3vSKmQo697EadCV9cGlL38GnDuoUNUgLqklCB
Bookmark

Toxic Positivity: Berikut ini Dampak Toxic Positivity dan Cara Mengatasinya

Toxic positivity artinya kebiasaan yang selalu melihat suatu kondisi dari sisi positif apapun keadaannya, sehingga pikiran negatif dalam dirimu berusaha untuk dihilangkan atau dihindari dengan saran atau kata-kata pada diri sendiri maupun orang lain. Padahal kata-kata tersebut bisa saja berdampak buruk atau positif yang toxic.

Hal ini juga diungkapkan oleh (Wood et al., 2009), bahwa memberikan kata-kata positif kepada lawan bicara yang sedang mengalami masalah dapat membuat lawan bicara itu merasa tidak dihargai dan menganggapnya bahwa ia sedang diremehkan. Padahal niatnya untuk memberikan hal positif ke orang lain atau semangat, tapi berujung masih bisa terjabak dalam toxic postivity

Toxic Positivity: Berikut ini Dampak Toxic Positivity dan Cara Mengatasinya
Gambar. Toxic Positivity: Berikut ini Dampak Toxic Positivity dan Cara Mengatasinya. Sumber. pexels.com

Toxic positivity terjadi apabila seseorang terus-menerus mendorong orang lain yang sedang mengalami masalah untuk selalu berpikiran positif atau melihat sisi baik dalam segala situasi. Hal itu dilakukan tanpa memperhatikan pengalaman yang dirasakan dan dilalui oleh orang lain, serta tanpa memberi kesempatan untuk meluapkan perasaannya. 

Baca juga:

Fenomena seperti ini banyak terjadi dalam kehidupan kita, seperti usaha dalam memberikan motivasi atau penyemangat kepada orang lain yang sedang mengalami masalah. Namun semua itu ada unsur menghakimi dan tidak bisa menjadi pendengar yang baik, sebenarnya mempunyai dampak baik itu ringan maupun berat. Untuk itu dalam pembahasan kali akan diuraikan juga beberapa dampak dari toxic positivity dan cara mengatasinya.

Dampak Toxic Positivity

Dilansir dari (emc.id/05/09/2021) dr. Anna Elissa yang merupakan dokter spesialis kesehatan jiwa, menulis bahwa melakukan toxic positivity bisa menimbulkan beberapa dampak baik itu ringan sampai berat. Selanjutnya penjelasan mengenai dampak dari perilaku ini dibagi menjadi menjadi dua bagian, yaitu pada orang yang melakukannya dan orang yang menerimanya.

Dampak negatif toxic positivity pada orang yang melakukannya yaitu: Pertama, pihak yang melakukan akan semakin sulit untuk berempati terhadap sesama. Apabila seseorang melakukan perilaku toxic jenis ini, artinya ia enggan untuk mengenali masalah orang lain dan berempati kepadanya.

Kedua, para pelaku toxic positivity akan mengalami kesulitan memberikan solusi yang baik atau menangani masalah. Karena mereka tidak mau mendengar orang lain atau tidak adanya keinginan untuk mengetahui masalah dari seseorang, sehingga mereka tidak mampu untuk memahami apa yang dirasakan dan harus dilakukan.

Penjelasan di atas merupakan dampak negatif dari toxic positivity pada orang yang melakukannya, lantas bagaimana dampak negatifnya pada orang yang menjadi korban atau yang menerimanya? dr. Anna Elissa dampak negatif tersebut antara lain:

  • Korban merasa tidak dihargai maupun didengarkan,
  • Korban merasaa dirinya terisolasi dan tidak ada yang bisa memahami mereka serta selalu merasa tidak memiliki siapapun, 
  • Pelaku toxic positivity sebenarnya mereka seringkali membuat korban mempertanyakan dirinya sendiri, dan hal itu membuat mereka menjadi orang yang mudah insecure.

Beberapa dampak yang telah diuraikan di atas mungkin sedikit memberikan kita gambaran mengenai dampak negatif toxic positivity dari sisi orang yang melakukannya dan orang yang menerimanya. Di sisi lain masih banyak dampak lain selain dari yang disebutkan di atas, yaitu sebagai berikut:

1. Dapat Memicu Stres

Toxic positivity membuat seseorang cenderung menghindari perasaan negatif atau menekan emosi negatif yang ada. Sehingga selalu berusaha memikirkan hal lain yang dianggap positif yang menjadi overthinking karena banyak yang ia tampung di kepalanya. 

Pada kenyataannya hal yang demikian itu bukannya membuat seseorang merasa lebih baik, malah lebih menambah stres pada orang lain. Apabila hal ini terus terjadi, maka akan berdampak buruk bagi kesehatan mental, dan bisa saja mereka mengalami perubahan fisik seperti menurunya berat badan atau sakit apabila mereka terus mengalami stres yang berlebihan.

2. Anxiety

Anxiety artinya rasa cemas yang datang karena selalu berusaha untuk menampilkan dirinya dengan sangat berlebihan. Seseorang yang memiliki toxic positivity cenderung lebih gelisah atau penuh kekhawatiran ketika tidak bisa menampilkan dirinya yang terbaik. Apabila ia menunjukan emosinya maka itu dia anggap seperti kelemahan yang tidak bisa ditampilkan.

Maka seseorang yang mengalami anxiety adalah dirinya selalu dipenuhi rasa cemas dengan citra diri yang dimikinya, dia merasa kehilangan diri yang perfeksionis ketika menunjukan perasaan sedih dan lainnya yang dianggap sebagai emosi negatif, dia mungkin akan sangat tidak tenang sehingga membuat perasaan gelisah terus bersarang di dalam jiwanya.

3. Mengalami Gangguan Kesehatan Mental

Apabila seseorang telah mengalami beban pikiran yang sangat berlebihan, selalu gelisah ketika setiap saat. Hal itu akan mengganggu kesehatan mental mereka, seperti depresi. Karena pikiran-pikiran berlebihan itu akan menjadi racun yang akan merugikan diri sendiri dan bahkan pada orang lain.

Depresi akibat dari gangguan kesehatan mental ini sangat mungkin dialami oleh seseorang, karena mereka tidak mau menerima setiap emosi negatifnya dan membiarkan hal itu berlarut-larut di dalam dirinya atau mereka terus berusaha menghindari dan bukannya mengelolanya.

4. Hubungan dengan Orang Lain Menjadi Negatif

Orang toxic poisitivity tidak bisa menjadi pendengar yang baik atau mereka adalah pendengar yang buruk, sebab selalu memberikan saran-saran yang dianggap positif tanpa mengetahui sumber masalahnya. Maka hal ini akan membuat lawan bicara akan kehilangan kepercayaannya.

Apabila seseorang yang sudah membuka diri untuk menceritakan masalahnya kepada kita, bukan berarti mereka selalu membutuhkan saran-saran. Melainkan mereka hanya ingin didengar untuk meluapkan emosinya, dan bila kita selalu memotong apa yang mereka bicarakan maka hal ini akan mengganggu hubungan dengan orang tersebut karena telah kehilangan kepercayaannya.

5. Merasa Terkucilkan

Dampak perilaku toxic positivity lainnya adalah mereka seringkali merasa terkucilkan, karena para pelaku biasanya memberikan argument-argument yang bukan memberikan orang yang mengalami masalah menjadi lebih baik. Melainkan ada perilaku atau argument yang membuat orang lain merasa sangat tidak nyaman, sampai-sampai merasa tidak berdaya.

Hal ini terjadi karena biasanya mereka ketika menceritakan kepada orang lain atau temanya, namun merasa tidak direspon dengan baik. Maka hal itu membuat mereka merasa tidak nyaman, sehingga lebih memilih menyendiri, dan merasa dirinya terkucilkan. Orang yang merasa dirinya kehilangan kepercayaan diri karena dikucilkan, membuat mereka sulit mengekspresikan dirinya.

Cara Mengatasi Toxic Positivity

Kita mungkin sedikit mengetahui dari gambaran tentang toxic positivity yang sering dilakukan baik diri sendiri maupun pada orang lain. Selain itu dengan memahami dampak dari perilaku yang sudah diuraikan di atas, mungkin sebagian dari kita ingin mengetahui tentang cara mengatasinya. Untuk itu cara-cara mengatasi toxic positivity dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Belajar Mengelola Emosi

Pertama-tama kita sebagai manusia harus menyadari bahwa menahan emosi yang negatif sebenarnya bukanlah hal baik bagi diri sendiri. Wajar jika dalam kehidupan ini selalu diperhadapkan dengan berbagai masalah, dan itu menandakan bahwa kita memang benar-benar hidup. Namun yang menjadi persoalan bukanlah menahan semua perasaan atau menampungnya, melainkan kita harus mencoba belajar untuk mengelola setiap emosi negatif tersebut.

Kita dapat mengekspresikannya agar semua emosi negatif yang ada dalam diri kita tidak menjadi penyakit. Mengeluarkan rasa marah, kecewa, sedih, kekhawatiran sebenarnya baik bagi kita agar lebih rileks. Namun sebagai manusia kita harus mampu mengetahui mengekspresikan pada waktu yang tepat untuk mengekspresikan semua itu, salah satunya dengan kemampuan kecerdasan emosional atau melakukan coping stres(Baca:Apa itu Coping Stres?).

2. Belajar untuk Memahami Orang Lain

Banyak dari kita yang melakukan perbuatan toxic positivity bahkan pada teman atau orang-orang terdekat di sekitar kita, yaitu dengan tidak pernah belajar untuk belajar untuk memahami seseorang yang menceritakan tentang hal-hal buruk ketika mereka mengalaminya. Hal itu terjadi karena sejak awal tidak ada sikap untuk menghargai seseorang, sehingga hal itu bisa saja berdampak buruk pada orang lain.

Untuk itu salah satu cara dalam memahami orang lain adalah belajar menghargai mereka, karena dengan begitu orang yang menceritakan atau mencurahkan setiap pengalaman maupun masalahnya bisa kita dengarkan dengan saksama sampai benar-benar memaahamo keadaan mereka. Jika kita mampu pada tahap ini, maka kita akan benar-benar hati-hati memberikan pendapat atau tidak menghakimi mereka.

Apa pentingnya bagi kita untuk belajar memahami orang lain? Yaitu memperlakukan orang lain sebagai manusia seutuhnya, yang butuh untuk didengar. Karena mendengar orang lain berbicara pada kita dan ada upaya untuk memahaminya adalah bagian dari mengakui keberadaan atau eksistensinya sebagai manusia. Sebaliknya, bila kita tidak mau mendengar orang lain berbicara dan enggan memahaminya, artinya kita tidak menganggap mereka ada atau tidak menghormati keberadaannya. 

3. Belajar untuk tidak Membanding-Bandingkan

Membanding-bandingkan kondisi atau pengalaman kita dengan orang lain baik itu dianggap positif maupun negatif, hanya akan membuat kondisi psikologis orang lain semakin memburuk. Karna orang lain yang sedang mengalami masalah tertentu menganggap bahwa kita tidak memahami atau tidak bisa merasakan kondisi pengalamannya

Di sisi lain uapaya membandingkan bukannya membuat orang termotivasi justru menimbulkan hal lain seperti rasa marah, benci dan menambah stres. Selain itu kita juga tidak boleh mengahkimi orang yang menceritakan masalah atau pengalamannya, karena itu akan membuat orang tersebut tidak lagi membuka diri dan mempercayai kita.

4. Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri

Kita mungkin sering atau pernah mendengar istilah berdamai dengan diri sendiri, namun apa yang harus dipahami pada istilah ini? Yaitu kita belajar bahwa mengakui perasaan negatif atau masalah yang sedang dialami sebagai fakta. Menurut Ford, Lam, John dan Mauss (2018) menguraikan hal ini berdasarkan hasil penelitiannya bahwa sikap penerimaan (acceptance) terhadap setiap pengalaman yang negatif sebenarnya sangat mendukung kesehatan psikologis seseorang.

Penjelasan itu memberikan kita gambaran bahwa apabila seseorang berupaya untuk bisa menerima perasaan atau emosi negatifnya dan mereka tanpa perlu menghakimi dirinya sendiri sebenarnya dapat memberikan atau meraih kesehatan psikologis. Di sisi lain sikap menerima apa adanya dala konteks ini sebenarnya juga dapat membantu diri sendiri untuk mengelola maupun menangani stres.

Kesimpulan

Dengan mengetahui dampak dari toxic positivity diharapkan dapat membuat kita lebih bijak ketika dalam keadan sulit. Selain itu arti dari memahami dampak dari toxic positivity sebenarnya membuat kita berupaya untuk mencari cara dalam mengatasi toxic positivity.

Pentingnya kita mengetahui dampak toxic positivity dalam kehidupan sehari-hari agar kita juga bisa memahami apa yang dialami diri sendiri atau orang lain ketika mereka mengalami toxic positivity. Selain itu mengetahui cara mengatasi toxic positivity agar kita bisa belajar menarapkan dalam kehidupan sehari-hari, apalagi pada saat kita mengalaminya.

Catatan:

Kolom ini tidak menyediakan bimbingan konseling, melainkan hanya memberikan beberapa bahan bacaan sebagai harapan menjaga kesehatan mental kita, atau bagian dari partisipasi dalam gerakan kesehatan mental. Apabila membutuhkan bimbingan konseling, maka bisa dicari pada pihak terkait yang telah menyediakannya.

Referensi

Anna, Elissa. 2021. Kenali Dampak Toxic Positivity Agar Kesehatan Mental Tetap Terjaga. (emc.id/05/09/2021). Dilansir pada 22/07/2022. https://www.emc.id/id/care-plus/hindari-toxic-positivity-agar-kesehatan-mental-tetap-terjaga.

Ford, B.Q.; Lam, P.; John, O.P. & Mauss, I. B. (2018). The psychological health benefits of accepting negative emotions and thoughts: Laboratory, diary, and longitudinal evidence. Journal of Personality and Social Psychology 115(6):1075-1092. 

Quintero, S., & Long, J. 2019. Toxic Positivity: The Dark Side of Positive Vibes. Retrieved January 7, 2020, from The Psychology Group.

Satrio Pamungkas, B. Yudani, H. D., Wirawan, I. G. N., & Petra, U.K 2020. Perancangan Film Pendek Mengenai Toxic Positivity Di Lingkungan Masyarakat Surabaya.16.

Wood, J. V., Elaine Perunovic, W. Q., & Lee, J. W. 2009. Positive self-statements: Power for some, peril for others. Psychological Science20(7), 860–866. 

Post a Comment

Post a Comment