EjB3vSKmQo697EadCV9cGlL38GnDuoUNUgLqklCB
Bookmark

Self Healing dengan Memaafkan Diri Sendiri (Forgiveness)

Sebagai makhluk sosial kita selalu berhubungan dengan orang lain baik itu teman, rekan kerja, pacar atau keluarga juga tidak selamanya berjalan harmonis. Tentunya ada kalanya banyak dari kita yang telibat dalam konflik dan menyebabkan luka batin, sehingga banyak dari kita yang berpikir negatif seperti menyalahkan diri sendiri dan membuat dampak yang merugikan diri kita sendiri. 

Self healing juga merupakan langkah yang baik agar bisa menyembuhkan luka batin, namun sebagian dari kita banyak yang membuat hal itu seperti jalan-jalan atau berlibur ke pantai menjadi pelarian dari kenyataan dan tanggung jawab terhadap diri kita sendiri.

Self Healing Dengan Memaafkan Diri Sendiri (Forgiveness)
Gambar. Self healing dengan memaafkan diri sendiri (Forgiveness). Sumber. pixabay.com

Untuk itu diperlukan suatu pemahaman yang bijak tentang self healing bagi kita yang sedang dalam menghadapi konflik atau menyembuhkan luka batin kita. Salah satunya adalah dengan cara yang disebut forgiveness atau dalam bahasa lain dapat dipahami sebagai cara kita memaafkan diri sendiri, berlatih melepaskan emosi yang diakibatkan orang lain dengan pikiran positif.

Pengertian Forgiveness 

Apa itu forgiveness? Atau apa yang dimaksud dengan cara memaafkan diri sendiri? Selain pengertian sederhana yang disebutkan di atas, dalam pembahasan kali akan dekemukakan pengertian forgiveness menurut para ahli dari berbagai sumber, yaitu sebagai berikut:

  • Menurut Ghani (2011) 

Forgiveness adalah suatu sikap individu atas kondisi agar selalu berupaya untuk melepaskan kemarahan, dendam dan rasa sakit yang diberikan oleh orang lain pada dirinya. Hal ini menunjukkan bahwa dalam melakukan self healing seseorang dapat melepaskan segala emosi negatif agar tidak berlanjut terlalu lama. 

  • Worthingthon & Scherer (2004) 

Forgiveness artinya adalah sebagai suatu sikap memafkan diri sendiri dalam artian sebagai proses individu untuk merubah emosi yang negatif. Hal itu dapat berupa seperti ketersinggungan, marah dan sakit hati yang kemudian diupayakan menjadi berempati, bersimpati dan lebih ke perbuatan yang mengarah pada kebajikan. 

  • Woodyatt & Wenzel (2013) 

Self healing dengan metode memaafkan diri sendiri juga dapat disebut dengan self-forgiveness. Hal itu dapat diartikan sebagai proses seseorang saat dirinya sadar akan kesalahannya dan menanggapi emosi negatif itu dari konsekuensinya. Kemudian dilanjutkan dengan memaafkan seperti menebus kesalahan itu dengan berusaha memperbaiki diri.

  • Menurut Graham et al. (2017) 

Dalam karyanya Handbook of Self-Forgiveness, sikap memafkan diri sendiri ini sebenarnya mempunyai peran untuk mendorong seseorang yang melakukan perselingkuhan agar keluar dari hal itu. Kemudian dia tidak harus larut dengan kesalahan itu, karenaa harus memaafkan diri agar tidak melakukannyaa serta memulihkan emosi negatif yang hadir.

  • Enright (1996) 

Mendefinisikan pemaafan diri atau self forgiveness adalah sebagai sikap untuk segera meninggalkan kebencian diri setelah menyaadari kesalahannya. Namun hal itu dilakukan dengan tanpa membenci diri, melainkan lebih peduli dan mencintai diri sendiri sebagai upaya perbaikan atas dirinya.

  • Fincham (2005; Worthington, 2013) 

Memafkan diri sendiri atau yang disebut dengan self forgiveness adalah upaya pengalaman seseorang dalam menurunkan pikiran-pikiran negatif, dan meningkatkan perasaan postif atas tindakan pada dirinya sendiri.

  • Cornish dan Wade (2015) 

Arti self forgiveness adalah sebagai proses atau upaya seseorang menyadari tanggung jawabnya setelah menyakiti orang lain, atau adanya persaan menyesal. Kemudian mereka berperilaku untuk memperbaikinya yang dibarengi dengan komitmen dan didasarkan pada nilai-nilai.

Aspek-Aspek Fogiveness

Apa saja aspek-aspek forgiveness? Mengenai hal ini ada beberapa yang telah diuraikan oleh (Lopez dan Snyder, 2003) bahwa terdapat 3 aspek yang terdiri dari avoidance motivations, revenge motivations dan beneviolence motivations. Sedangkan (Zechmeister dan Romero, 2002) menyebutkan ada aspek kognitif, afektif dan perilaku. Hal ini akan diuraikan sebagai berikut:

1. Avoidance Motivations

Avoidance motivations artinya dapat dipahami sebagai bentuk motivasi atau upaya orang yang disakiti untuk tidak menghindari kontak baik itu fisik maupun psikologis dengan yang menyakiti. Individu yang menjadi korban kadang tidak menginginkan dalam menjaga jarak dengan orang yang telah menyakitinya.

Artinya seseorang yang menjadi korban ada keinginan dan berusaha menjaga hubungan dengan pelaku, atau orang yang telah membuatnya merasakan sakit atau mereka tidak berusaha untuk mencoba menghindar maupun menjahuinya.

2. Revenge Motivations

Revenge motivations adalah upaya seseorang yang mengurungkan motiviasi atau niat untuk membalas dendam orang yang telah menyakitinya. Artinya orang tersakit selalu membuang atau meminimalisir perasaan balas dendam maupun melakukan hal yang jahat kepada orang yang sebenarnya telah menyakiti dirinya.

3. Beneviolence Motivations

Aspek yang ketiga dari memaafkan diri adalah beneviolence motivations, yaitu tidak balas dendam dan menjauhi orang yang menyakitinya. Melainkan mencoba berbuat hal-hal baik kepada mereka yang justru telah menyakiti dirinya, dan situasi ini membuat terus untuk menjaga hubungan dengan orang tersebut.

4. Aspek Kognitif

Aspek ini adalah yang dibicarakan oleh (Zechmeister dan Romero, 2002) bahwa sikap memaafkan harus melibatkan kognitif, yaitu harus dilakukan dengan cara yang sadar dan bertindak berdasarkan pada hal itu serta bukan pada ketidaksadaran. Mereka memaafkan diri sendiri sekaligus orang lain, tanpa menuntut balasan apa-apa.

5. Aspek Afektif

Aspel afektif yang dikatakan oleh (Zechmeister dan Romero, 2002) adalah suatu respon emosi dalam memafkan dan terus berupaya untuk mengembangkannya. Kemudian hal intu bukan dilakukan dengan merendahkan diri atau menghina orang lain, melainkan dengan lebih mengasah kepedulian atau empati pada diri sendiri maupun orang lain yang telah menyakitinya.

6. Aspek Perilaku

Aspek kognitif dan afektif juga harus dibarengi dengan tindakan nyata atau sikap memafkan yang dimunculkan dari aspek perilaku. Sikap dan perilaku memaafkan ini tidak hanya ditunjukan pada diri sendiri, melainkan pada orang lain yang telah menyakitinya dengan mencoba membicarakan jalan keluar atas permasalahan yang dihadapi.

Dimensi-Dimensi Self-Forgiveness

Apa saja dimensi dari forgoveness? Untuk menjawab pertanyaan ini, maka sebagai langkah awal kita akan melihatnya berdasarkan uraian yang diberikan oleh para ahli. Sehingga kita tidak salah dalam melihat tentang cara memaafkan diri sendiri sebagai upaya self healing.

Adapun dimensi-dimensi self forgiveness menurut para ahli salah atunya adalah (Woodyatt et.,al, 2017) yang telah menguraikan bahwa dalam memaafkan diri sendiri ada dua hal yang harus dilihat. Pertama, mengakui untuk bertanggung jawab dan yang kedua adalah memperbaharui harga diri.

  • Mengakui Tanggung Jawab

Maksud dari mengakui tanggung jawab adalah sikap memafkan diri sendiri dengan melibatkan kemampuan memperbaiki tentang apa yang telah terjadi. Kemudian tidak menyalahkan diri sendiri secara berlebihan atau yang diluar kendali dan memperbaiki hubungan tersebut, jika itu memungkinkan.

  • Memperbarui Harga Diri

Maksud dari memperbaharui harga diri adalah sikap memafkan pada diri sendiri dengan melibatkan kemampuan dengan cara mengakui setiap kegagalan yang dialami dan terus berusahan untuk memulihkan diri sendiri serts menjadi lebih baik lagi.

Selain aspek self forgiveness yang disebutkan di atas, ada juga beberapa sebagaiman yang dikemukakan oleh (Cornish dan Wade, 2015), bahwa aspek dalam proses memaafkan diri sendiri itu terdiri dari 4 komponen dan hal ini akan diuraikan yaitu sebagai berikut:

1. Responsibility (Tanggung Tawab) 

Mungkin mirip dengan apa yang telah dikemukan sebelumnya, bahwa untuk proses memaafkan diri sendiri ini kita harus mempunyai sikap tanggung jawab atas setiap tindakan yang telah dilakukan.

2. Remorse (Penyesalan)

Remorse adalah aspek memaafkan diri setelah merasa bertanggung jawab yang kemudian ia harus menyadari bahwa kesalahan yang dibuat mungkin menghasilkan rasa malu. Sehingga mereka harus berusaha untuk mengurangi perasaan ini.

3. Restoration (Pemulihan)

Setelah menyadari akan adanya rasa untuk bertanggung jawab dan penyesalan yang di alami, selanjutnya hal itu harus dibarengi dengan tindakn nyata. Karena sikap tanggung jawab tidak untuk berdiam diri dan penyesalan bukanlah hanya menangisi apa yang sudah terjadi, melainkan mengambil langkah untuk cepat bertindak.

4. Renewal (Pembaruan)

Renewal adalah bagian dari perasaan atau emosi seseorang yang kemudian disadarinya sebagai upaya memafkan diri sendiri, atas setiap kesalahannya dan kemudian berupaya untuk memperbaiki diri tanpa harus merendahkannya. Melainkan melakukan perbaikan namun tidak kehilangan penghargaan atas diri sendiri.

Jenis-Jenis Forgiveness

Apa saja jenis-jenis forgiveness? Menurut Baumeister, Exline, dan Somer (1998), bentuk-bentuk tindakan memaafkan atau forgiveness dibagi menjadi empat jenis, yaitu sebagai berikut:

1. Hollow Forgiveness 

Memaafkan bentuk ini terjadi saat pihak yang tersakiti dapat mengekspresikan forgiveness secara konkret melalui perilaku namun pihak yang tersakiti belum dapat merasakan dan menghayati adanya forgiveness di dalam dirinya. Pihak yang tersakiti masih menyimpan rasa dendam dan kebencian meskipun ia telah mengatakan pada pihak yang menyakiti bahwa ia telah memaafkan.

2. Silent Forgiveness 

Memaafkan bentuk ini terjadi saat intrapsychic forgiveness dirasakan namun tidak diekspresikan melalui perbuatan dalam hubungan interpersonal. Pihak yang tersakiti tidak lagi menyimpan perasaan marah, dendam, benci kepada pihak yang menyakiti namun tidak mengekspresikannya. Pihak yang tersakiti membiarkan pihak yang menyakiti terus merasa bersalah dan terus bertindak seakan-akan tetap bersalah.

3. Total Forgiveness 

Pada memaafkan bentuk ini pihak yang tersakiti menghilangkan perasaan kecewa, benci atau marah terhadap pihak yang menyakiti tentang kesalahannya, kemudian hubungan antara pihak yang disakiti dengan orang yang menyakiti pulih secara total seperti sebelum keadaan sebelum peristiwa yang menyakitkan terjadi.

4. No Forgiveness 

Pada kondisi ini, forgiveness tidak terjadi pada pihak yang tersakiti. Keadaan ini terjadi karena pihak yang tersakiti telah salah persepsi mengenai forgiveness, berikut adalah kesalahan persepsi yang menjadi faktor penyebab terjadinya no forgiveness pada diri seseorang:

  • Claims on reward benefit

Pihak yang tersakiti merasa bahwa dirinya berhak atas reward atau keuntungan sebelum ia harus memaafkan. Karena ia beranggapan bahwa pihak yang menyakiti telah memiliki hutang yang harus dibayar karena telah menyakiti dirinya. 

  • To prevent reccurence

Forgiveness dianggap dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya peristiwa menyakitkan yang dialami pihak yang tersakiti di masa mendatang. Tidak diberikannya forgiveness kepada pihak yang menyakiti, maka pihak yang tersakiti dapat terus meningkatkan pelaku yang menyakiti untuk tidak mengulangi perbuatannya.

  • Continued suffering

Pihak tersakiti terus menerus merasa menderita karena peristiwa menyakitkan yang dialami oleh pihak yang tersakiti dimasa lalu memengaruhi hubungannya dengan pihak yang menyakiti dimasa depan, maka forgiveness merupakan sesuatu yang sulit dilakukan. 

  • Pride and revenge

Pihak yang tersakiti merasa bahwa dengan memberikan maaf kepada pihak yang menyakiti maka ia telah melakukan perbuatan yang mempermalukan dirinya bahkan menunjukkan rendahnya harga diri pihak yang tersakiti. 

  • Principal refusal

Pihak yang tersakiti menilai forgiveness sebagai pembebasan terhadap pelaku dari peradilan. Pihak yang tersakiti takut tidak dapat mendapat perlindungan hukum jika ia sudah memaafkan orang yang menyakiti.

Baca Juga:

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Forgiveness

Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi forgiveness? atau faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku memaafkan? Menurut McCullough dkk (1997), terdapat beberapa faktor yang dianggap sebagai penentu sikap memaafkan atau forgiveness pada seseorang, yaitu:

1. Social Cognitive Determinant 

Determinan sosial kognitif meliputi afektif empati terhadap orang lain yang difasilitasi oleh adanya penilaian tanggung jawab dan kemungkinan untuk menyalahkan orang lain maupun penilaian terhadap kesungguhan. Atribusi yang diberikan kepada orang lain merupakan salah satu faktor dari empati maupun perilaku memaafkan. 

Determinan lainnya adalah adanya pemikiran pribadi, image, dan afeksi yang terkait dengan perselisihan inter-personal yang dapat menyebabkan individu melakukan balas dendam maupun melakukan penolakan.

2. Offense Related Determinant 

Determinan ini timbul apabila individu mempersepsi bahwa hal yang dirasakan oleh individu atas pertikaian yang terjadi memberikan penderitaan bagi dirinya, maka akan lebih sulit kemungkinan baginya untuk dapat memaafkan.

3. Relational Determinant 

Faktor lain yang berpengaruh terhadap perilaku memaafkan adalah sejauh mana kedekatan yang dimiliki oleh seseorang terhadap pihak yang bertikai dengannya. Hal ini banyak dipengaruhi oleh keterkaitan antara perilaku memaafkan dengan motivasi untuk berhubungan inter-personal dengan orang lain.

4. Personality Determinant 

Determinan kepribadian yang berpengaruh antara lain pemahaman seseorang akan konsep memaafkan, sikap seseorang terhadap upaya balas dendam, respon yang dimunculkan saat merasa marah, norma religiusitas sebagai alat untuk meredam perilaku yang mengarah pada pertikaian.

Manfaat Forgiveness

Setiap proses dalam melakukan sesuatu pasti mendapatkan manfaatnya, begitu juga dengan melakukan proses memafkan diri atau forgiveness. Adapun manfaat dari dalam melakukan hal ini yang telah dijelaskan menurut para ahli adalah sebagai berikut:

  • Ghani (2011)

forgiveness merupakan kondisi individu berproses untuk melepaskan kemarahan, dendam, dan rasa nyeri akibat orang lain. Proses yang dilalui individu tentunya akan memiliki manfaat seperti pada pernyataan tersebut menunjukkan bahwa forgiveness memiliki manfaat untuk melepaskan rasa marah, dendam dan nyeri akibat perlakukan orang lain. 

Beberapa hal yang dilepaskan pada proses forgiveness merupakan emosi negatif yang dimiliki individu. Hal ini menunjukkan bahwa forgiveness dilakukan dengan tujuan untuk melepaskan emosi negatif akibat konflik dengan orang lain. 

  • Woodyatt, Wenzel, & de Vel-Palumbo (2017) 

Manfaat forgiveness yang lain yaitu memiliki dampak positif untuk meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan seperti kesejahteraan kehidupan yang baik, serta memiliki harga diri dan kepercayaan diri yang baik Woodyatt, Wenzel, & de Vel-Palumbo (2017).

  • Pradana (2020)

forgiveness merupakan hal yang penting untuk kehidupan yang sekarang dan masa depan karena dengan menerapkan forgiveness maka seseorang dapat menghadapi konflik dimasa sekarang sehingga lebih mudah untuk dimaafkan. 

Berdasarkan pengertian di atas dapat digambarkan bahwa manfaat ketika melakukan proses memafkan diri atau forgiveness yang didapatkan merupakan hasil dari proses individu yang telah melepaskan rasa marah, dendam dan beberapa emosi negatif sehingga muncul kesejahteraan kehidupan yang lebih baik dengan emosi yang lebih positif. 

Selain itu sikap memaafkan diri meningkatkan rasa memiliki dan harga diri kita ketika merasa kesalahan atau kegagalan mengancam kebutuhan psikologis (Woodyatt et al., 2017). 

Bagaimana Penerapan Forgiveness?

Bagaimana penerapan forgiveness? Atau bagaimana penerapan perilaku memafkan diri sendiri? Adapun menurut Khuditani (2019) mengembangkan teknik-teknik dalam terapi forgiveness, adapun penjelasannya sebagai berikut: 

1. Meditasi Cinta Kasih

Meditasi cinta kasih merupakan meditasi yang telah dikembangkan oleh peneliti dengan beberapa langkah penerapannya. Adapun instruksi dalam meditasi ini sebagai berikut: 

  • Tutup mata anda dan fokus pada proses pernafasan selama tiga menit.
  • Arahkan perhatian anda ke kening 
  • Kemudian berterima kasihlah dengan mengarahkan tangan ke atas kepala anda dan ungkapan alasan anda dalam berterimakasih karena telah berjasa kepada anda 
  • Meminta maaf atas tindakan-tindakan yang pernah anda lakukan kepada diri anda baik dengan sengaja ataupun tidak disengaja.
  • Doakan diri anda untuk mendapatkan kebaikan, kebahagiaan, kedamaian, kesejahteraan, cinta dan keberlimpahan
  • Mohon dukungan atas diri anda terhadap apa yang anda inginkan.

2. Merasakan Emosi Negatif, Mengalirkan, dan Membuangnya

Terapi yang kedua dilakukan untuk membuang emosi yang negatif. Adapun instruksi pada terapi ini adalah: 

  • Pikirkan sebuah peristiwa masa lalu yang membuat diri tidak nyaman 
  • Munculkan peristiwa dalam seluruh penginderaan.
  • Fokuslah pada aliran rasa yang tiba-tiba muncul atas peristiwa masa lalu. Selanjutnya, kenalilah asal munculnya rasa itu dan bagaimana rasanya.
  • Beranilah untuk mengenali rasa tersebut dan katakan “saya ingin mengenali perasaan ini, kapanpun perasaan ini muncul, saya segera menyadari perasaan ini”.
  • Beranilah untuk mengendalikan perasaan tersebut saat rasa tersebut muncul secara perlahan hingga pada puncaknya. Rasakan bahwa anda mampu memunculkan sekaligus menghilangkan rasa tersebut. 
  • Saat anda merasakan emosi maka perasaan tersebut jangan ditahan. Lakukan upaya untuk mengubah perasaan tersebut dengan mengalirkannya dengan memperbesar atau mengecilkan rasa.
  • Selalu berlatih menggunakan terapi ini agar dapat merasakan emosi negatif yang muncul.

Kesimpulan

Penjelasan di atas memberikan gambaran pada kita bawha forgiveness atau cara memaafkan diri sendiri merupakan hal yang sangat penting bagi kita yang sedang atau dalam konflik tertentu. 

Self Healing dengan cara memaafkan diri sendiri atau self forgiveness juga merupakan langkah untuk suatu proses dalam memotivasi diri kita agar selalu berupaya mempunyai pikiran yang positif, memilki motivasi agar selalu bertanggung jawab yang tidak lari dari kenyataan, dan memberikan kita pemahaman agar tidak selalu menyalahkan diri sendiri.

Artinya diri kita juga perlu dimaafkan sebelum membuat keputusan self healing yang lain. Kita harus mampu mengobati diri kita dengan cara ini sebagai bentuk self healing, dan melatih diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dalam kata lain proses untuk memaafkan diri sendiri atau self forgiveness juga dapat dipahami sebagai cara kita berdamai dengan diri sendiri.

Referensi

Baumeister, R.F., dkk. 1998. The Victim Role, Grudge Theory, and Two Dimensions of Forgiveness. Philadephia: The Templeton Fondation Press.


Cornish, M. A., & Wade, N. G. 2015. A therapeutic model of self-forgiveness with intervention strategies for counselors. Journal Counseling and Development, 93(I), 96–104. 


Enright, R. D. 1996. Counseling within the forgiveness triad: On forgiving, receiving forgiveness, and self- forgiveness. Counseling and Values, 40(2), 107–126. 


Ghani, A.H. 2011. Forgiveness therapy. Yogyakarta: Kanisius 


Graham, K. L., Morse, J. L., O’Donnell, M. B., & Steger, M. F. 2017. Repairing meaning, resolving rumination, and moving toward self-forgiveness. In Handbook of the psychology of self-forgiveness (pp. 59–72). Springer. 


Hall, J. H., & Fincham, F. D. 2005. Self- forgiveness: The stepchild of forgiveness research. 24(5), 621–637. 


Khuditani, K. U. 2019. Metode mendamaikan dalam islam: Studi kasus penerapan teknik terapi forgiveness pada konflik hubungan pertemanan di SMK 3 Surabaya. Skripsi. Surabaya: Fakultas Ushuluddin dan Filsafat. 


McCullough, M.E., dkk. 1997. Interpersonal Forgiving Inclose Relationships. Journal of Personality and Social Psychology.


Pradana, R. M., 2020. Forgiveness pada skizofrenia remisi yang sudah berkeja. Character: Jurnal Penelitian Psikologi, 7(3), 95-109.


Snyder, C.R & Lopez, S.J. 2003. Positive Psychological Assessment: A Handbook of Models and Measures. American Psychological Association.


Woodyatt, L., & Wenzel, M. 2013. Self-forgiveness and restoration of an offender following an interpersonal transgression. Journal of Social and Clinical Psychology, 32(2), 225–259. 

 

Woodyatt, L., & Wenzel, M. 2013. The psychological immune response in the face of transgressions: Pseudo self-forgiveness and threat to belonging. Journal of Experimental Social Psychology, 49, 951–958. 


Woodyatt, L., Worthington, E. L., Wenzel, M., & Griffin, B. J. (Eds.). 2017. Handbook of the Psychology of Self- Forgiveness


Worthington, E. L., & Scherer, M. 2004. Forgiveness is an emotion-focused coping strategy that can reduce health risks and promote health resilience: Theory, review, and hypotheses. [versi elektronik]. Psychology & Health. 19(3), 385-405.


Zechmeister, J.S., dan Romero, C. 2002. Victim and Offender Accounts of Interpersonal Conflict: Autobiographical Narratives of Forgiveness and Unforgiveness. Journal of Personality and Social Psychology.



Post a Comment

Post a Comment