EjB3vSKmQo697EadCV9cGlL38GnDuoUNUgLqklCB
Bookmark

Mengenal Sikap Manipulatif dalam Hubungan: Berikut Ini Bentuk-Bentuk dan Dampaknya

Membangun hubungan memanglah tidak semudah membalik telapak tangan, karena di dalamnya ada upaya untuk saling memahami, pengertian, kepedulian dan sebagainya. Namun saat ini masih banyak hubungan yang dibangun menjadi tidak sehat.

Hubungan yang tidak sehat ini juga terjadi karena adanya sikap manipulatif di dalamnya, namun banyak dari kita yang tidak menyadari akan hal ini. Apalagi sikap tersebut memberikan dampak yang cukup negatif baik itu pada kondisi fisik dan psikis seseorang.

Mengenal Sikap Manipulatif dalam Hubungan: Berikut Ini Bentuk-Bentuk dan Dampaknya
Gambar. Sikap manipulatif dalam hubungan.

Untuk itu pada pembahasan ini kita mencoba mengenal lebih jauh tentang apa itu sikap manipulatif dalam hubungan? Ciri-ciri, dan dampaknya. 

Pengertian Sikap Manipulatif

Apa itu sikap manipulatif? Kita harus memahami terlebih dahulu istilah ini, agar bisa mengetahui bagaimana praktiknya di dalam suatu hubungan. Adapun berikut ini terdapat beberapa definisi manipulatif menurut para ahli, yaitu akan diuraikan sebagai berikut:

  • George R. Bach

Memberikan definisi sikap manipulatif yang terlihat dari karyanya dengan judul "The Intimate Enemy: How to Fight Fair in Love and Marriage" (1969), yaitu sebagai usaha individu untuk dapat mencoba mempengaruhi atau mengontrol pasangannya ketika membangun hubungan.

  • Dr. Phil McGraw

Menjelaskan sikap manipulatif dalam karyanya dengan judul "Life Code: The New Rules for Winning in the Real World" (2012), menurutnya sikap manipulatif dianggap sebagai cara yang digunakan bagi orang dengan niat jahat agar bisa mengontrol dan memanfaatkan orang lain.

  • Simon, Rudolf, & Dzindolet 

Mereka menjelaskan sikap manipulatif dalam artikel yang berjudul "Is It the Consequence or the Feedback? An Empirical Investigation of the Consequences of Feedback-Seeking Behavior." Yaitu bisa saja nampak ketika adanya umpan balik yang tidak jujur, dan itu dilakukan sebagai upaya hanya untuk mengendalikan orang lain atau memanipulasi situasi.

  • Robert Greene 

Dalam karyanya yang berjudul "The 48 Laws of Power" (1998), pengertian sikap manipulatif itu diterangkan dengan dunia bisnis dan politik. Ia melihat tindakan tersebut sebgai taktik yang banyak digunakan untuk mencapai kekuasaan baik itu dalam konteks politik maupun bisnis.

Bentuk-Bentuk Sikap Manipulatif dalam Hubungan

Untuk memahami lebih jauh tentang sikap manipulatif dalam hubungan, maka alangkah baiknya kita mengenal bentuk-bentuknya. Sebenarnya hal ini juga berbeda-beda, tergantung pada tindakan individu, dan situasinya. Adapun beberapa yang bentuk sikap manipulatif dalam suatu hubungan, yaitu dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Pemerasan Emosional

Bentuk sikap manipulatif yang pertama dalam hubungan, dan mungkin paling sering terjadi adalah melakukan pemerasan emosional. Para pelaku biasanya menciptakan rasa bersalah, mengancam akan bunuh diri, pura-pura menangis, dan sebagainya.

Pada konteks tertentu mereka biasa menggunakan ancaman seperti meninggalkan seseorang yang bersamanya, walaupun itu adalah cara mereka untuk mendapatkan perhatian demi memenuhi keinginan mereka sendiri. Hal ini juga termasuk dalam kekerasan emosional atau emotional abusive, mengenai hal ini anda bisa membaca pada artikel lainnya.

Baca Juga: Emotional Abusive: Sebuah Bentuk Kekerasan Emosional dan Apa Saja Dampak Emotional Abusive, Serta Bagaimana Mengenal Ciri-Cirinya.

2. Manipulasi Seksual

Hubungan yang tidak sehat terjadi karena adanya manipulatif secara seksual, individu dengan sikap seperti ini membangun hubungan tidak dengan dasar mencintai. Hal itu dibangun atas dasar atau motif untuk mendapatkan kepuasan seksual mereka semata.

Tidak hanya itu, bentuk manipulasi seksula dalam suatu hubungan juga bisa saja seperti penghinaan seksual, pemaksaan, pengancaman terhadap pasangan yang menolak keinginan seksual mereka. Apa bila mereka tidak mendapatkan yang diinginkan, maka pelaku biasanya mengatakan bahwa pasangannya tidak mencitainya dan inilah sikap manipulatif itu.

3. Mengisolasi dari Kehidupan Sosial

Pelaku manipulatif cenderung menjauhkan pasangannya dari kehidupan sosial, entah itu melarang untuk membangun relasi dengan teman-teman maupun keluarga dari pasangan mereka. Hal ini akan membuat seseorang merasa terisolasi dan sulit mendapatkan dukungan dari orang lain apabila membutuhkan sesuatu.

4. Kritik dan Penghinaan Terus-menerus

Pelaku manipulatif dalam suatu hubungan adalah mereka yang cenderung melakukan kritikan dan bahkan penghinaan terhadap pasangannya. Hal ini membuat kepercayaan diri seseorang yang menjalani hubungan dengan menjadi rendah, dan merasa tidak dihargai.

Misalnya pada saat pasangannya bercerita atau mengeluarkan pendapat, maka mereka bukannya memberi dukungan melainkan menganggap pikiran pasangan mereka seperti anak kecil.

5. Menarik Diri atau Mendiamkan Pasangannya

Bentuk dari sikap manipulasi lainnya dalam hubungan yaitu cenderung berupaya untuk mengendalikan situasi. Hal ini bisa saja seperti mencoba menarik diri seperti memutuskan komunikasi atau mendiamkan pasangan mereka, ini dengan tujuan agar adanya kecemasan pada diri pasangannya.

6. Manipulasi Finansial

Orang yang manipulatif dalam hubungan memanglah tidak secara serius dalam mencintai pasangannya, adakalanya bentuk yang terlihat dari mereka adalah lebih cenderung untuk memanfaatkan kondisi finansial dari pasangan mereka. Bahkan senang mengontrol keungan.

Bahkan bisa saja sebaliknya mereka menggunakan keuangannya sendiri dengan tujuan agar mempengaruhi, menciptakan ketergantungan, dan terus mengontrol seseorang yang menjadi pasangan mereka.

7. Penciptaan Konflik

Bentuk orang manipulatif lainnya adalah mereka mempunyai kecenderungan dalam menciptakan konflik. Hal ini bertujuan agar bisa mengalihkan perhatian pada pasangannya, agar teralihkan dari masalah yang sebenarnya.

Penciptaan konflik demi mengalihkan masalah adalah cara terbaik orang manipulatif agar terhindar dari masalah yang mereka buat sendiri. Selain itu tujuannya supaya pasangan mereka mau mendengarkan argumen atau penjelasannya, dan bahkan bisa saja mengalihkan masalah itu pada yang lainnya.

8. Pemanfaatan Rasa Bersalah

Selain menciptakan konflik yang bertujuan untuk mengalihkan masalah, di sisi lain para pelaku manipulatif juga cenderung memanfaatkan rasa bersalah. Perasaan ini akan timbul pada mereka karena pelaku mengalihkan dengan cara mengungkit kesalahan pasangannya.

Mereka bertindak seolah-olah kesalahan yang mereka buat disebabkan oleh pasangan mereka sendiri. Sehingga pelaku manipulatif ini membuat seseorang merasa bersalah, dan tindakannya terus dramatis seolah pelaku menjadi adalah orang yang menjadi korbannya. Tindakan ini juga disebut dengan victim blaming atau playing victim.

Baca Juga: Victim Blaming: Sikap Menyalahkan Korban, Bentuk-Bentuk Victim Blaming, dan Dampaknya.

9. Ancaman dan Intimidasi

Pelaku manipulatif dalam hubungan yang merasa tujuannya tidak tercapai, mereka tidak akan segan untuk mengambil tindakan seperti ancaman maupun intimidasi demi mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Ancaman-ancaman dari mereka bisa saja berupa fisik, atau berupaya melaporkan orang yang menjadi pasangan mereka pada pihak berwenang, dan bahkan melakukan ancaman terhadap masa depan hubungan mereka.

10. Pengabaian Kebutuhan Pasangan

Bentuk-bentuk orang manipulatif yang berikutnya adalah melakukan pengabaian terhadap kebutuhan dan keinginanan pasangannya, serta hanya berfokus pada kesenangan maupun kebahagiaan mereka sendiri. Kemingkinan ini menjadi ciri-ciri dari mereka yang biasa terjadi dan paling mudah dikenali.

11. Penggunaan Anak atau Keluarga

Bentuk-bentuk tindakan manipulatif lainnya biasanya terjadi dalam ruang lingkup keluarga atau rumah tangga. Mereka menggunakan anggota keluarga seperti anak-anak yang dijadikan alat untuk memanipulasi pasangannya.

Dampak Sikap Manipulatif dalam Hubungan

Membangun hubungan dengan orang yang manipulatif tentu akan memberikan dampak negatif, apalagi pada mereka yang menjadi korbannya. Adapun secara umum beberapa dampak dari tindakan manipulatif ini, yaitu dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Merusak Kepercayaan dan Hilangnya Keintiman

Dampak berhubungan dengan orang manipulatif dapat merusak kepercayaan pada pasangan dan keintiman (kedekatan). Individu yang menjadi korban manipulatif cenderung merasa tidak dihargai, dikhianati, dan bahkan mereka bisa saja kehilangan rasa aman. Sehingga dapat mengganggu kedekatan secara emosional diantara keduanya.

2. Menciptakan Stres

Korban yang terperangkap dalam hubungan yang manipulatif lebih cenderung mendapatkan dampaknya seperti stres. Hal ini terjadi karena mereka sering mendapatkan tekanan dari pelaku, kemudian menciptakan rasa cemas, marah, kebingungan, dan bahkan depresi.

3. Terasing dengan Lingkungan Sosial

Dampak dari korban manipulatif dalam hubungan adalah salah satunya menciptakan keterasingan dengan lingkungan sosialnya. Pelaku manipulatif membuat korban jauh dari teman dan bahkan keluarga mereka, hal ini juga merupakan larangan-larangan yang dibuat oleh pelaku.

4. Terasing dengan Diri Sendiri

Membangun hubungan dengan orang yang manipulatif berdampak pada kehilangan diri sendiri. Artinya individu yang menjadi korban akan cenderung lebih mementingkan keinginan pelaku, dan mengabaikan kebutuhan atau keinginannya sendiri.

5. Ketergantungan Emosional

Orang yang menjadi korban manipulatif akan terlihat dampaknya yaitu terperangkap dalam ketergantungan emosional. Hal itu terjadi karena mereka cenderung mengikuti keinginan pelaku dan tidak bisa menjadi dirinya sendiri, sehingga dalam menentukan apapun sang korban menunggu persetujuan dari dan dukungan dari pelaku.

6. Konflik Berkelanjutan

Dampak lainnya ketika menjalani hubungan dengan orang yang memiliki sikap manipulatif, justru hanya akan membuat konflik dan itu cenderung berkelanjutan. Kemudian hal itu akan menguras banyak energi di antara kedua bela pihak, akan tetapi dampak serius terdapat pada orang yang menjadi korban manipulatif.

7. Kerusakan pada Hubungan dengan Orang Lain

Dampak sikap manipulatif yang berikutnya adalah dapat menciptakan rusaknya hubungan dengan orang lain. Hal itu terjadi karena para pelaku manilpulatif cenderung melarang pasangannya untuk membangun relasi baik itu bersama keluarga, maupun teman atau rekan kerja mereka.

8. Kerusakan Kesehatan Mental

Korban yang telah terparangkap dalam hubungan manipulatif bisa memberikan dampak pada kesehatan mental mereka. Hal itu terjadi karena mereka cenderung merasa hidup dalam tekanan, cemas, depresi, stres, dan kondisi yang tidak sehat. 

9. Kerusakan pada Kesejahteraan Fisik

Tidak hanya memberikan dampak pada gangguan kesehatan mental, berhubungan dengan orang manipulatif juga dapat memberikan dampak pada kesejahteraan secara fisik. Hal itu bisa saja terjadi karena pelaku bisa saja menggunakan kekerasan secara fisik, yang menyebabkan cedera dan berbahaya bagi korbannya.

Post a Comment

Post a Comment