EjB3vSKmQo697EadCV9cGlL38GnDuoUNUgLqklCB
Bookmark

Teori Kebutuhan Manusia Menurut Abraham Maslow

Kebutuhan manusia adalah hal yang tidak bisa diremehkan dalam setiap aktivitas kehidupan, karena manusia terkadang bertindak sebagaimana untuk memenuhi kebutuhan tersebut atau menjadi motivasi dari setiap aktivitas manusia.

Banyak pakar yang telah membahas tentang persoalan kebutuhan manusia baik itu dari pakar ekonomi, antropologi maupun psikologi. Salah satunya adalah Abraham Maslow yang merupakan tokoh psikologi humanistik, teori kebutuhan manusia yang dibahasanya bisa dibilang paling terkenal.

Teori Kebutuhan Manusia Menurut Abraham Maslow
Gambar. Teori kebutuhan manusia menurut Abraham Maslow.

Lantas bagaiamana kebutuhan manusia dalam pemikiran Maslow? Untuk itu pada pembahasan ini kita akan mencoba mengenal lebih jauh tentang teori kebutuhan manusia dari perspektif atau pemikiran Abraham Maslow serta apa dampak ketika kebutuhan tersebut bila tidak terpenuhi?

Dasar Pemikiran Abraham Maslow

Teori kebutuhan Maslow adalah berpijak pada konsepnya tentang psikologi humanistik, yang artinya teori kebutuhan tersebut berdasarkan pada kajian tentang manusia. Selanjutnya pembahasan Maslow tentang manusia juga berpijak pada teori motivasi, yang menjelaskan alasan manusia melakukan sesuatu atau bertindak.

Untuk memahami tentang konsep motivasi yang dibicarakan oleh Maslow ini juga berpijak pada konsep kebutuhan manusia. Karena pemenuhuan kebutuhan manusia inilah yang akan memotivasi manusia dalam menjalankan aktivitas kehidupannya.

Pemahaman tentang beberapa konsep tersebut menjadi penting dalam memahami apa itu manusia? dalam kajian humanistiknya. Adapun terdapat 7 konsep dasar yang dikemukakan Maslow dalam memahami manusia secara menyeluruh menurut (Muazaroh dan Subaidi, 2019), yaitu sebagai berikut:

  • Pertama, manusia adalah individu yang harus dilihat sebagai satu kesatuan dan berkaitan satu sama laainnya. 
  • Kedua, karakteristik dorongan manusia maupun kebutuhan yang muncul, tidak bisa hanya memfokuskan pada satu jenis kebutuhan tertentu. 
  • Ketiga, pembahasan tentang puncak dari tujuan manusia adalah bagian dari kajian motivasi yang sangat penting dibahas.
  • Keempat, tidak bisa mengabaikan kehidupan bawa sadar dalam pembahasan teori motivasi.
  • Kelima, memahami bahwa setiap keinginan fundamental dan mutlak pada manusia tidak terlepas dari kehidupan kesehariannya.
  • Keenam, adanya tujuan lain yang tersembunyi dan memunculkan keinginan.
  • Ketujuh, teori motivasi harus mengasumsikan bahwa motivasi adalah konstan dan tidak pernah berakhir, dan masih ada beberapa konsep dasar lainnya.

Untuk itu dalam teori kebutuhan manusia menjadi hal yang paling dasar untuk memahami konsep manusia menurut Maslow. Menurut Jaenudin (2015: 139 hirarki Maslow juga harus dibedakan antara kebutuhan dasar (basic-needs) dengan kebutuhan tinggi manusia (meta-kebutuhan atau meta-needs).

Di sisi lain kebutuhan tinggi menurut Koeswara (1991: 128) dikenal dengan istilah meta needs atau being need (B-needs) yang merupakan ragam motif dalam mendorong individu untuk mengekspresikan potensi-potensinya. Kedua pembahasan ini akan diuraikan lebih lanjut pada pembahasan di bawah.

Konsep Kebutuhan Dasar Manusia Menurut Abraham Maslow (Basic-Needs/Deficiency-Needs)

Kebutuhan dasar atau konatif adalah ciri khas yang mendorong atau memotivasi (Feist & Feist, 2010). Kebutuhan dasar sering juga disebut dengan deficiency needs atau menurut Koeswara (1991: 128) diartikan dengan motif kekurangan yaitu yang menyangkut dengan kebutuhan fisiologis dan rasa aman. 

Jika individu kekurangan sesuatu atau ia mengalami defisit maka ia akan merasakan sangat membutuhkan hal tersebut, dan apabila sudah terpenuhi maka ia tidak akan merasakan apa-apa lagi (Boeree, 2010: 254). Adapun jenis-jenis kebutuhan dasar manusia menurut Maslow ini dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Kebutuhan Fisiologis (Physiological Needs

Jenis kebutuhan ini danggap sebagai yang paling mendasar bagi Maslow paada kehidupan umat manusia. Adapun jenis-jenis dari kebutuhan ini dapat berupa sesuatu yang sifatnya biologis seperti oksigen, makanan, air dan lainnya.

Di sisi lain dalam uraian (Feist & Feist, 2010: 332) menjelaskan bahwa hal mendasar dari kebutuhan fisiologi yang sangat penting ini juga termasuk mempertahankan suhu tubuh, selain apa yang disebutkan sebelumnya di atas.

Kondisi Perang Dunia II menjadikan dasar dari pemikiran Maslow untuk berbicara tentang konsep kebutuhan manusia. Menurutnya manusia waktu itu berada dalam kondisi yang begitu memprihatinkan, karena perang manusia kekurangan makanan dan mengakibatkan kelaparan, yang bagi Maslow itu adalah kebutuhan mendasarnya. 

Menurut Jaenudin (2015: 129) oleh karena ini adalah jenis kebutuhan manusia yang paling mendasar untuk dipenuhi, karena hal itu berkaitan dengan mempertahankan hidup secara fisik. Sehingga ketika individu kelaparan atau kekurangan makanan, cinta maupun harga dirinya maka mereka cenderung melakukan perburuan mendapatkan makanan terlebih dahulu baru kemudian memenuhi kebutuhan lainnya. Berikut ini adalah beberapa contoh kebutuhan fisiologis menurut Maslow:

  • Makanan: Manusia membutuhkan asupan makanan yang cukup untuk mendapatkan energi dan nutrisi yang diperlukan oleh tubuh.
  • Air: Manusia membutuhkan air menghindari dehidrasi serta mengoptimalkan maupun fungsi tubuh tetap terjaga.
  • Tidur: Manusia membutuhkan waktu istirahat yang cukup seperti tidur untuk memulihkan fisik maupun mental mereka.
  • Udara Segar: Lingkungan yang memiliki kualitas udara yang baik untuk pernapasan yang sehat, sangat dibutuhkan oleh umat manusia.
  • Tempat Berlindung: Manusia membutuhkan tempat berlindung yang aman dan nyaman untuk melindungi diri dari cuaca ekstrem dan ancaman fisik.
  • Pakaian: Manusia membutuhkan pakaian yang sesuai agar tubuh terlindungi dari hal-hal seperti suhu ekstrem maupun menjaga privasinya.
  • Kesehatan: Manusia membutuhkan perawatan kesehatan yang memadai agar kesehatan fisik terjaga atau terpulihkan.

Kebutuhan fisiologis ini dianggap sebagai prioritas utama karena jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, individu akan merasa tidak nyaman dan kesulitan memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang lebih tinggi dalam hierarki Maslow, seperti kebutuhan akan rasa aman, sosial, pengakuan, dan aktualisasi diri.

2. Kebutuhan Akan Rasa Aman (Safety Needs) 

Setelah terpenuhinya kebutuhan fisiologis, manusia kemudian cenderung mencari rasa aman (safety needs), seperti kebutuhan akan perlindungan, kebebasan dari rasa takut, kekacauan dan sebagainya. Menurut Maslow (dalam Koeswara, 1991: 121) yang dimaksud dengan kebutuhan akan rasa aman, ialah kebutuhan yang mendorong individu untuk memperoleh ketenteraman, kepastian, dan keteraturan dati lingkungannya. 

Koeswara (1991: 121) menguraikan bahwa menurut Maslow kebutuhan terhadap rasa aman itu sangat nyata, bahkan bisa daiamati seperti pada bayi maupun anak-anak karena ketidakberdayaannya. Sebagai contoh seorang bayi dan anak-anak akan selalu dekat dengan orang tuanya demi suatu perlindungan.

Selanjutnya Koeswara (1991: 121) menjelaskan bahwa kebutuhan rasa aman bisa saja berebentuk upaya-upaya untuk memperoleh perlindungan dan keselamatan kerja, penghasilan tetap atau membayar asuransi. 

Kebutuhan rasa aman dalam hierarki kebutuhan Maslow merujuk pada salah satu tingkat kebutuhan yang muncul setelah kebutuhan fisik dasar terpenuhi. Hierarki kebutuhan Maslow adalah teori psikologis yang menggambarkan hierarki lima tingkat kebutuhan manusia. Adapun hal ini akan diuraikan sebagai berikut:

  • Keamanan Fisik

Ini mencakup perlindungan dari bahaya fisik seperti ancaman fisik, kekerasan, atau kecelakaan. Individu perlu merasa aman dalam lingkungan mereka, termasuk rumah, tempat kerja, dan komunitas mereka.

  • Keamanan Finansial

Kebutuhan ini melibatkan perasaan aman terkait dengan keuangan dan stabilitas ekonomi. Individu ingin memiliki cukup sumber daya finansial untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka dan mengatasi kejadian tak terduga seperti kehilangan pekerjaan atau kebutuhan medis mendesak.

  • Keamanan Emosional

Ini mencakup perasaan aman dalam hubungan interpersonal dan kehidupan emosional. Individu perlu merasa diterima, dihormati, dan dicintai oleh orang-orang di sekitarnya. Mereka juga ingin menghindari konflik, penyalahgunaan, atau pengkhianatan dalam hubungan mereka.

  • Keamanan Lingkungan

Kebutuhan ini berkaitan dengan keamanan lingkungan fisik yang meliputi faktor-faktor seperti polusi, bencana alam, dan keberlanjutan lingkungan. Individu ingin merasa aman dalam lingkungan yang sehat dan berkelanjutan.

  • Keamanan Pekerjaan

Ini berkaitan dengan keamanan dalam hal pekerjaan dan karir. Individu ingin merasa aman dalam pekerjaan mereka, termasuk stabilitas pekerjaan, hak-hak tenaga kerja, dan kesempatan pengembangan karir.

Ketika kebutuhan rasa aman ini terpenuhi, individu dapat melanjutkan kebutuhan di tingkat selanjutnya dalam hierarki Maslow, yaitu kebutuhan rasa memiliki atau cinta dan kebutuhan aktualisasi diri.

3. Kebutuhan atas kepemilikan dan cinta (The Belongingness and Love Needs)

Setelah terpenuhinya kebutuhan fisiologis maupun rasa aman, sebagai makhluk sosial manusia juga cenderung membutuhkan atau menjalin hubungan cinta dengan orang lain. Mereka ingin dimengerti dan dipahami oleh seseorang. Di sisi lain ada juga penegasan bahwa tidak selalu sama antara kebutuhan cinta dengan seks menurut Maslow.

Hal itu dimaksudkan karena kebutuhan akan seks justru masuk dalam kategori-kategori kebutuhan pada fisik. Sedangkan maksud dari kebutuhan akan cinta ini mengajarkan manusia selalu terhubung dengan sesamanya dan berienteraksi dengan manusia lainnya.

Maslow (dalam Koeswara, 1991: 123) juga menekankan bahwa kebutuhan akan cinta termasuk di dalamnya adalah keinginan untuk mencintai maupun dicintai. Sehingga Maslow juga menjelaskan bahwa ada terdapat hubungan yang signifikan pada masa anak-anak diantara kepuasan cinta dengan afeksi maupun tentang kesehatan mental mereka.

4. Kebutuhan untuk Penghargaan (The Esteem Needs)

Setelah terpenuhunya tiga jenis kebutuhan manusia di atas, maka sudah menjadi naluri manusia untuk bisa dihargai oleh sesama bahkan masyarakat. Maslow (dalam Koeswara, 1991: 24) membagi kebutuhan penghargaan kedalam dua bagian, yaitu:

  • Bentuk penghargaan diri sendiri, hal ini termasuk hasrat demi memperoleh kemampuan, kepercayan diri, pribadi yang kuaat, pendidikan, mandiri, serta kebebasan.
  • Penghargaan diri yang berasal dari orang lain, hal ini termasuk suatu prestasi. Karena sebagai pribadi yang telah melakukan sesuatu dengan baik, cenderung membutuhkan penghargaan diri dari lingkungan sekitar atau orang lain.

Konsep Kebutuhan Tinggi Manusia Menurut Abaraham Maslow (Meta-Needs/ B-Needs)

Pembahasan ini mengajak kita untuk mengenal lebih jauh tentang konsep kebutuhan tinggi manusia (meta-needs/b-needs). Adapun beberapa jenis kebutuhan manusia ini terdiri dari kebutuhan akan ilmu pengetahuan, kebutuhan estetika dan aktualisasi diri. Hal ini akan diuraikan sebagai berikut:

1. Kebutuhan Ilmu Pengetahuan

Kebutuhan ilmu pengetahuan atau menurut Feist dan Feist (2010: 337) Maslow menyebutnya dengan sebutan cognitif needs (kebutuhan ilmu pengetahuan) adalah keinginan untuk mengetahui, keinginan untuk memecahkan misteri, untuk memahami dan untuk menjadi penasaran. 

Menurut Jaenudin (2015: 134-135) kebutuhan kognitif dapat diekspresikan melalui keinginan untuk memahami, menganalisis, mengevaluasi, menjelaskan, mencari sesuatu baru atau suasana baru dan meneliti. 

Apabila kebutuhan kognitif tidak terpenuhi menurut Abraham Maslow maka semua kebutuhan akan terancam tidak terpenuhi, karena pengetahuan merupakan kebutuhan yang sangat penting untuk mengetahui masing-masing kebutuhan dasar tersebut, (Feist dan Feist (2010: 337).

Hal ini dapat dilihat pada kebutuhan fisiologis seperti makan, sebenarnya terlebih dahulu ia harus mengetahui tentang bagaimana cara memperoleh makanan, kemudian kebutuhan rasa aman juga akan terpenuhi apabila mengetahui bagaimana cara membangun rumah, dan seterusnya.

2. Kebutuhan Estetika

Kebutuhan estetika berbeda dengan kebutuhan konatif yang bersifat universal, kebutuha estetika tidaklah bersifat universal (Feist & Feist, 2010: 338). Akan tetapi Maslow (dalam Jaenudin, 2015: 135) menemukan ada beberapa orang termotivasi oleh kebutuhan akan keindahan begitu mendalam dan pengalaman yang menyenangkan secara estetis. 

Menurut Maslow (dalam Jaenudin, 2015: 136) seseorang yang sehat mentalnya ditandai dengan kebutuhan keteraturan keserasian, atau keharmonisan dalam setiap aspek kehidupannya, seperti cara berpakaian yang rapih, menjaga ketertiban lalu lintas dan sebagainya. 

Sebaliknya seseorang yang kurang sehat mentalnya, atau sedang mengalami gangguan emosional dan stres, kurang memerhatikan kebersihan, dan kurang apresiatif terhadap keteraturan dan keindahan.

3. Kebutuhan aktualisasi diri (Self Actualization)

Kebutuhan inilah yang menjadi puncak tertinggi pencapaian manusia apabila kebutuhan-kebutuhan sebelumnya terpenuhi. Pencapaian aktualisasi diri ini berdampak pada kondisi psikologi yang meninggi pula seperti perubahan persepsi, dan motivasi untuk selalu tumbuh dan berkembang, (Maslow, 1954: 80).

Selanjutnya maksud dari kebutuhan terhadap aktualisasi diri ini mencakup pemenuhan diri, sadar akan potensi, diri, dan keinginan untuk menjadi sekreatif mungkin, (Maslow dalam Feist & Feist, 2010: 336).

Baca Juga:

Dampak Kebutuhan Tidak Terpenuhi

Berdasarkan pada pemahaman Maslow tentang hirarki kebutuhan manusia yang telah diuraikan di atas, bahwa hal itu merupakan langkah yang sangat penting bagi kehidupan mereka. Lantas apa dampak ketika kebutuhan manusia itu tidak dapat dipenuhi?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, sekiranya kita perlu menguraikan berdasarkan pada konsep kebutuhan manusia sebagaimana yang telah dirumuskan oleh Maslow. Adapun beberapa dampak kebutuhan manusia tidak terpenuhi, yaitu akan diuraikan sebagai berikut:

1. Kebutuhan Fisiologis

Kebutuhan fisiologis yang tidak terpenuhi, seperti makanan, air, tidur, dan perlindungan dari elemen-elemen lingkungan, dapat berdampak serius pada kesehatan dan kelangsungan hidup individu. Kekurangan makanan dan air yang berkepanjangan dapat menyebabkan malnutrisi, penyakit, dan bahkan kematian.

2. Kebutuhan Keamanan

Kebutuhan keamanan mencakup rasa aman fisik, perlindungan dari ancaman, dan kestabilan lingkungan. Ketika kebutuhan keamanan tidak terpenuhi, individu mungkin mengalami kecemasan, ketidakamanan, dan ketegangan yang berkepanjangan. Hal ini dapat menghambat perkembangan pribadi, mengganggu konsentrasi, dan mengurangi rasa percaya diri.

3. Kebutuhan Sosial

Kebutuhan sosial meliputi hubungan interpersonal, cinta, dan afiliasi dengan orang lain. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, individu dapat merasa kesepian, terasing, dan tidak dihargai. Kurangnya interaksi sosial dan dukungan emosional dapat berdampak negatif pada kesejahteraan mental dan menyebabkan masalah seperti depresi, kecemasan, dan isolasi sosial.

4. Kebutuhan Penghargaan

Kebutuhan penghargaan mencakup rasa hormat, pengakuan, dan prestise dari orang lain. Jika individu tidak merasa dihargai atau tidak mendapatkan pengakuan yang pantas, mereka dapat mengalami perasaan rendah diri, ketidakpuasan, dan kurangnya motivasi. Hal ini dapat menghambat pengembangan potensi pribadi dan kemajuan dalam karier atau pencapaian pribadi.

5. Kebutuhan Aktualisasi Diri

Kebutuhan aktualisasi diri adalah keinginan individu untuk mencapai potensi tertinggi mereka dan menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, individu mungkin merasa tidak puas, tidak berarti, dan kehilangan tujuan hidup. Ketidakpuasan pada tingkat ini dapat menghambat eksplorasi diri, perkembangan kreativitas, dan pencapaian tujuan hidup.

Dalam hierarki kebutuhan Maslow, kebutuhan yang lebih rendah harus terpenuhi terlebih dahulu sebelum individu dapat memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi. Ketidakpuasan pada tingkat yang lebih rendah dapat menghalangi kemajuan ke tingkat yang lebih tinggi. Oleh karena itu, penting untuk memenuhi kebutuhan manusia pada setiap tingkat dalam hierarki agar individu dapat mencapai

Referensi

A.H. Maslow. 1954. Motivation and Personality, New York: Harper and Brothers Publisers.


Feist, J., & Feist, G. J. 2010. Teori Kepribadian (7th ed.). (M. Astriani, Penyunt & Handrianto, Penerj.) Jakarta: Salemba Humanika.


Frank G. Goble. 1971. Madzhab Ketiga Psikologi Humanistik Abraham Maslow, Terj. Drs. A. Supratinya Yogyakarta: PT Kanisius.


Jaenudin, U. 2015. Teori-Teori Kepribadian. Bandung: Pustaka Setia.


Koeswara, E. 1991. Teori-Teori Kepribadian. Bandung: Eresco


Muazaroh, Siti dan Subaidi. 2019. Kebutuhan Manusia Dalam Pemikiran Abraham Maslow (Tinjauan Masaqid Syariah. Jurnal Al Mazahib. Vol 7. No. 1.

Post a Comment

Post a Comment