EjB3vSKmQo697EadCV9cGlL38GnDuoUNUgLqklCB
Bookmark

Mengenal Perbedaan Dalam Hubungan Berdasarkan Kepribadian

Perbedaan adalah hal yang lumrah dalam kehidupan manusia atau pada suatu hubungan yang dijalani. Namun masalahnya adalah terkadang dalam suatu hubungan seringkali menganggap perbedaan sebagai alasan ketidakharmonisan suatu hubungan.

Bahkan sebagaian dari kita mungkin memahami bahwa adanya perbedaan-perbedaan dalam hubungan inilah yang membuat konflik itu juga tiba pada suatu hubungan. Padahal menurut Ari Ginanjar Agustian bahwa hubungan yang harmonis itu bukan berarti tidak ada konflik sama sekali, melainkan kita pintar dan bijaksana dalam menangani konflik tersebut.

Mengenal Perbedaan Dalam Hubungan Berdasarkan Kepribadian
Gambar. Mengenal perbedaan dalam hubungan berdasarkan kepribadian. Sumber. pixabay.com

Apa maksud dari bijaksana dalam menangani konflik? Salah satunya adalah dengan menerima perbedaan-perbedaan pribadi seseorang ketika menjalani hubungan dengannya. Di sisi lain setiap orang juga memilki kepribadian yang berbeda-beda, sehingga faktor ini juga sangat berpengaruh terhadap kualitas hubungan yang dibangun. 

Hubungan romantis yang memuaskan dapat membuat seseorang lebih sehat secara fisik dan mental. Robles et al., (2014) dalam (Gerlach et al., 2018).

Untuk itu dalam pembahasan ini kita akan mencoba mengenal lebih jauh tentang jenis-jenis perbedaan dalam hubungan, dan faktor-faktor kepribadian seseorang dan hubungannya dengan kualitas membangun hubungan, serta cara mengatasi perbedaan-perbedaan ketika membangun suatu hubungan.

Jenis-Jenis Perbedaan Dalam Hubungan

Apa saja yang membuat perbedaan-perbedaan dalam suatu hubungan? Untuk menjawab pertanyaan ini, sebenarnya ada beragam bentuk dan jenis perbedaan dalam hubungan. Adapun beberapa hal yang bisa disebutkan secara umum tentang perbedaan dalam suatu hubungan, yaitu sebagai berikut:

1. Usia

Membangun hubungan dengan individu lain seringkali kita tidak memandang usia, begitupun pada hubungan asmara. Namun seringkali perbedaan usia menjadi alasan kurangnya keharmonisan dalam hubungan, karena banyak secara tidak sadar belum menerima perbedaan ini.

Hal itu seperti pasangan yang lebih tua seringkali merasa lebih tahu, berpengalaman dan harus didengarkan oleh pasangannya yang lebih muda. Apabila hal itu dianggap wajar, maka tidak lebih hubungan tersebut menjadi tidak sehat karena terdapat nuansa dominasi oleh pasangan yang lebih tua.

2. Jarak

Perbedaan jarak dalam hubungan sebenarnya mempengarhui tingkat kepercayaan masing-masing individu yang menjalani hubungan tersebut. Pasangan yang saling berjauhan seringkali muncul rasa saling curiga dan membuat jenis komunikasi semakin buruk. 

3. Keyakinan

Perbedaan keyakinan juga sangat berdampak pada upaya dalam membangun suatu hubungan, hal ini karena terdapat ajaran atau larangan-larangan tertentu untuk menjalin hubungan asmara sampai pernikahan seperti pada perbedaan kayakinan terhadap suatu agama.

4. Budaya

Bentuk perbedaan dalam hubungan yang berikutnya adalah budaya atau tradisi, sebagaimana yang terlihat masing-masing orang bisa terlahir dari beberapa tradisi yang berbeda dan belum tentu salah satu dari mereka mau menerima budaya dan tradisi dari pasangannya. 

Terkadang juga perbedaan budaya dan tradisi ini bisa menyulitkan setiap orang ketika dalam membangun hubungan dan ingin melanjutkan ke tingkat berikutnya seperti pernikahan. Hal-hal yang menyulitkan seperti standar mahar yang ditetapkan oleh salah satu budaya yang terlalu tinggi dan sebagainya.

5. Prinsip

Jenis perbedaan dalam hubungan yang selanjutnya adalah tentang prinsip, karena seseorang adakalanya memilki prinsip terhadap sesuatu. Sehingga tidak semua mereka mengikuti apa yang diinginkan orang lain atau pasangannya.

Faktor Kepribadian Dalam Hubungan

Apakah faktor kepribadian mempengaruhi kualitas hubungan? Untuk menjawab pertanyaan ini menurut (Feist & Feist, 2009) melakukannya dengan pendekatan Five-Factor Model of Personality yang mengemukakan bahwa terdapat 5 faktor dari model kepribadian individu, yaitu neuroticism, extraversion, openness, agreeableness dan conscientiousness.

Adapun penjelasan dari 5 model kepribadian tersebut Gelach et al., (2018) menguraikan beberapa jenis kepribadian yang bisa mempengaruhi atau menunjang kualitas hubungan, hal ini akan diuraikan yaitu sebagai berikut:

1. Neuroticism

Neuroticism adalah individu dengan keadaan emosional yang negatif dan lebih cendurung bersifat jangka panjang seperti perasaan cemas, suasana hati yang sering berubah-ubah, sensitif, mudah merasa tertekan dan sebagainya.

Individu dengan skor neuroticism yang tinggi cenderung pencemas, temperamental, serta emosional (Feist & Feist, 2009). Sebaliknya, individu yang skor Neuroticism-nya rendah biasanya lebih stabil emosinya dan berwatak tenang (Gerlach et al., 2018).

Dalam konteks hubungan, orang dengan neurotisnya tinggi seringkali merasa curiga terhadap pasangannya dan hal itu akan membuatnya merasa cemas atau gelisah. Membangun hubungan dengan orang neurotis tinggi sangat muda merasa tersinggung karena mereka sangat sensitif, sehingga apabila anda menjadi pasangannya mungkin agak sedikit bersabar dengan hal ini.

Di sisi lain membangun hubungan dengan orang yang neurotisnya rendah sedikit lebih sehat, karena mereka cenderung tenang ketika hubungan kalian diperhadapkan dengan berbagai macam konflik tertentu.

2. Extraversion

Ekstraversion adalah istilah yang merujuk pada suatu kepribadian individu atau mereka yang cenderung mudah menyesuaikan dengan lingkungan sosialnya, dan konsep teori psikologi juga sering juga menyebutnya sebagai kepribadian ekstrovert. Sehingga bisa dikatakan bahwa seseorang dengan kepribadian ini mempunyai semangat atau antusias dalam membangun hubungan dengan orang lain.

Selain itu mereka yang mempunyai kepribadian ini tidak sungkan atau selalu aktif untuk mencari teman baru. Di sisi lain mereka juga dikenal sebagai orang yang terbuka, ketika mereka kurang suka atau tidak setuju terhadap sesuatu maka mereka akan mengungkapkannya.

Mereka yang termasuk dalam jenis kepribadian ini juga suka berteman, mudah bergaul serta ekspresif. Menurut (Feist & Feist, 2009) orang dengan tipe kepribadian ekstraversionnya rendah dikenal cenderung pendiam, menyendiri, serta pasif atau kurang mengungkapkan dirinya.

Dengan demikian faktor kepribadian ekstraversion menjadi hal yang sangat penting, karena bisa saja mempengaruhi kualitas dalam suatu hubungan. Sehingga hal itu bisa saja terlihat dari bukan saja dari kemampuan menyesuaikan, namun juga adanya sikap keterbukaan diri satu sama lain. Sebaliknya, jika kemampuan ini rendah mereka akan menjadi pasif atau menutup diri dalam suatu hubungan.

3. Openness

Openness adalah jenis kepribadian yang identik dengan keterbukaan wawasan dan mimiliki ide-ide yang original. Dengan demikian mereka mampu menerima sudut pandang orang lain, karena mereka adalah orang yang terbuka dan tidak saja mempunyai wawasan yang luas melainkan mendalam.

Selain mau menerima hal-hal baru untuk belajar sesuatu, mereka juga mau memberikan atau berbagi informasi yang ada pada diri mereka kepada orang lain serta cerdas dalam menciptakan aktivitas atau suasana yang menyenangkan. 

Hal ini juga diungkapkan dalam (Feist & Feist, 2009) bahwa itu tejadi apabila skor openness tersebut tinggi, yang suka dengan pengalaman baru, tidak suka pada rutinitas, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, kreatif dan suka pada kebebasan.

Dalam konteks hubungan individu dengan skor openness tinggi akan cenderung memperlihatkan rasa ingin tahu pada seseorang atau pasangannya, sebagai upaya untuk memahaminya. Dengan begitu mereka bisa membuat suatu hubungan menjadi penuh pengertian dan mereka juga bisa dijadikan sebagai tempat curhat atau bercerita yang baik.

4. Agreeableness

Agreeableness adalah suatu jenis kepribadian yang cenderung digambarkan sebagai orang yang mempunyai ketulusan, murah hati atau lembut dan toleran. Menurut (Feist & Feist, 2009) hal itu terjadi apabila skornya tinggi, namun sebaliknya apabila sesorang dengan agreeableness rendah akan bersikap kejam, pelit dan cenderung antagonis.

Dalam konteks hubungan misalnya, orang dengan kepribadian agreeableness yang skornya tinggi, akan memperlakukan orang lain yang menjalin hubungan dengannya akan terlihat selalu terlihat tulus, kemudian juga mereka dapat memperlakukan orang lain dengan lembut, suka menolong dan menerima perbedaan.

Sebaliknya apabila orang yang membangun hubungan dengan jenis kepribadian agreeableness yang skornya rendah, maka mereka sukar untuk menolong orang lain, cenderung memperlihatkan perilaku yang kasar terhadap orang yang membangun hubungan dengan merekad dan bahkan sulit menerima perbedaan pasangan.

5. Conscientiousness

Conscientiousness adalah dikenal sebagai jenis kepribadian yang pekerja keras atau disiplin, mereka juga dikenal dengan orang yang hati-hati, tepat waktu dan sangat teliti terhadap sesuatu. Hal ini juga diungkapkan dalam (Feist & Feist, 2009) bahwa itu terlihat apabila skornya tinggi, apabila skornya rendah maka mereka cenderung tidak terorganisir, malas, lalai dan tidak memiliki tujuan.

Dalam konteks hubungan orang dengan skor conscientiousness yang tinggi, mereka lebih cenderung menunujukan sikap yang penuh komitmen terhadap suatu hubungan, kemudian apa yang sudah direncanakan untuk mencapai tujuan dalam hubungan yang dibangun maka mereka akan berusaha mencapainya sebagai tujuan.

Sebaliknya seseorang dengan jenis kepribadian conscientiousness yang skornya rendah, mereka lebih cenderung terlihat sebagai orang yang tidak punya perencanaan dalam suatu hubungan, sehingga terlihat asal-asalan. Hal itu menandakan bahwa hubungan yang dibangun sebenarnya tidak jelas arah atau tujuannya ke mana.

Mengatasi Perbedaan Dalam Hubungan

Memiliki kemampuan dalam mengatasi perbedaan dalam suatu hubungan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi keharmonisan. Untuk itu ada beberapa cara yang dapat dijadikan sebagai referensi sebagai upaya mengatasi perbedaan dalam hubungan, yaitu sebagai berikut:

1. Mengakui Perbedaan

Cara yang pertama mengatasi perbedaan dalam suatu hubungan adalah dengan sadar dan mengakui bahwa semua manusia atau individu memiliki perbedaan. Sebagaimana pada perbedaan karakter atau kepribadian, minat dan bakat, serta impian individu yang berbeda-beda.

"Ingatlah...Kebersamaan Itu Tidak Harus Sama." (Rifaldi Sulaiman). 

Mengakui perbedaan itu bisa saja dilakukan seperti tidak memaksa orang lain atau pasangan kita agar mereka mengikuti pikiran, budaya, nilai-nilai, keinginan dan sebagainya yang kita miliki pada mereka. Di sisi lain masing-masing orang mempunyai latar belakang, sudut pandang dan masa lalu yang berbeda. 

Untuk itu kita juga harus selalu bersabar, apabila ingin merubah sesuatu yang dirasa tidak baik tidak bisa dengan memaksa mereka dengan terburu-buru. Apalagi mereka yang belum pulih dari masa lalunya, sehingga kita harus belajar untuk bersabar dalam memahami terlebih dahulu apa yang orang lain butuhkan, serta kita saling mendorong agar bisa mencapai impian yang mereka cita-citakan.

2. Belajar Bersyukur

Cara kedua dalam mengatasi perbedaan dalam suatu hubungan adalah dengan cara belajar bersyukur. Mengapa perbedaan ini harus disyukuri? Karena dengan perbedaan ini kita dapat mengenal satu sama lainnya, dan apa yang ada dalam diri kita dengan orang baik itu kekurangan dan kelebihan kita semua akan saling melengkapi satu sama lainnya.

3. Hadapi Konflik

Dalam suatu hubungan tentunya akan selalu diperhadapkan dengan konflik, namun untuk menjaga agar hubungan itu terjaga maka kita tidak boleh lari dari hal itu. Melainkan mencoba agar tetap tenang, sebagaimana menurut Ary Ginanjar Agustian bahwa hubungan yang harmonis itu bukan berarti tidak ada konflik sama sekali, melainkan bijaksana dalam menyelesaikan atau menanganinya.

4. Belajar Untuk Mencari Solusi Bersama

Cara ketiga mengatasi perbedaan dalam hubungan adalah dengan belajar mencari solusi bersama-sama. Dengan ini akan memberikan semacam ruang komunikasi yang baik, kemudian jangan sampai ada nuansa saling menyalahkan satu sama lain, serta fokuslah pada pembahasan yang berkaitan dengan rencana masa depan kalian.

5. Belajar Menciptakan Kepecayaan

Cara berikutnya dalam mengatasi perbedaan dalam hubungan adalah adanya saling percaya antara satu sama lainnya. Akan menjadi tidak baik apabila suatu hubungan itu tidak dibangun dengan dasar saling percaya. Untuk menciptakan hal ini butuh suatu komitmen agar tidak terjadi saling curiga, kemudian belajarlah untul terbuka satu sama lain.

Referensi

Feist, J., & Feist, G. J. 2009. Theories-of-personality (7th ed). McGraw-Hill.


Gerlach, T. M., Driebe, J. C., & Reinhard, S. K. 2018. Personality-and-romantic relationship-satisfaction. Encyclopedia-of-Personality-and-Individual-Differences, 1–8. 

Post a Comment

Post a Comment