EjB3vSKmQo697EadCV9cGlL38GnDuoUNUgLqklCB
Bookmark

Pengertian Bullying, Jenis, Faktor-Faktor dan Dampaknya

Perilaku manusia sebagai makhluk sosial tentunya akan selalu berinteraksi atau berhubungan dengan individu lainnya. Namun hal itu seringkali kita melihat adanya suatu perilaku yang tidak menyenangkan antara satu sama lain, dan kemudian hal itu juga akan memberikan dampak yang cukup serius.

Setiap perilaku yang tidak menyenangkan dalam hubungan antara sesama manusia ini, karena ada unsur kekerasan atau intimidasi oleh individu atau kelompok pada orang lain atau kelompok lainnya. Sebagaimana pada tindakan yang saat ini banyak terjadi, yaitu bullying.

Pengertian Bullying, Jenis, Faktor-Faktor dan Dampaknya
    Gambar. Pengertian bullying, jenis, faktor-faktor dan dampaknya. Sumber. Pixabay.com

Istilah bullying banyak sekali digunakan dan dilakukan oleh baik itu anak-anak, remaja sampai dengan orang dewasa. Untuk itu pada pembahasaan kali ini kita akan mencoba mengetahui tentang apa itu perilaku bullying?

Di sisi lain untuk mengenal tentang perilaku ini alangkah baiknya juga memahami beberapa jenis dan bentuk-bentuknya, faktor-faktor penyebab, serta dampak dari perilaku bullying.

Pengertian Bullying

Lantas apa yang dimaksud dengan bullying? Sebenarnya untuk menjawab pertanyaan cara sederhana yang dilakukan adalah dengan melihatnya dari sisi etimologi dan terminologi. Walaupun begitu istilah ini juga berasal dari kata 'bull' diartikan sebagai banteng yang senang menyeruduk ke sana ke sini.

Menurut Zakiyah (2017) secara etimologi kata 'bull' dalam bahasa Indonesia berarti penggerak atau perilaku yang mengganggu orang yang lemah. Sedangkan secara terminologi artinya suatu hasrat untuk menyakiti yang diperlihatkan dan menyebabkan seseorang menderita.

Di sisi lain perilaku bullying yang dilakukan baik individu atau kelompok yang merasa lebih kuat, mereka juga akan terus melakukan secara berulang-ulang dan parahnya lagi hal itu menimbulkan perasaan senang pada pelaku. 

Pengertian atau definisi bullying yang diberikan oleh pakar lainnya, seperti Olweus (1999) mengatakan baahwa poin dari perilaku bullying ini terletak pada fenomena sosial. Kemudian mengartikannya sebagai masalah psikososial seperti menghina atau merendahkan orang lain, serta dapat memberikan dampak negatif baik dari korban maupun pelakunya.

Maka dapat disimpulkan bahwa perilaku bullying adalah bentuk-bentuk perilaku kekerasan yang akan berdanpak negative kepada seseorang yang lebih lemah secara psikologis dan fisik yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok untuk memenuhi hasrat menyakiti seseorang.

Jenis-Jenis Bullying

Mengetahui tentang perilaku bullying bukan berarti kita sudah betul-betul memahami atau terhindar dari tindakan-tindakan tersebut. Karena begitu banyak juga orang yang menjelaskan tentang istilah itu, tapi masih bisa memungkinkan untuk melakukan hal itu juga.

Hal itu terjadi karena kita sebenarnya tidak mengetahui jenis-jenis atau bentuk-bentuk dari perilaku bullying. Untuk itu kita harus mengenal betul apa yang dimaksud dengan tindakan-tindakan bullying berdasarkan jenis-jenisnya?

Ada beberapa yang dapat kita jadikan referensi mengenai jenis-jenis bullying, sebagaimana yang diutaikan oleh para ahli. Menurut Coloroso (2007) mengatakan bahwa tindakan bullying terdiri dari 4 jenis, yaitu akan diuraikan sebagai berikut:

1. Bullying Fisik

Jenis bullying fisik ini merupakan salah satu yang dapat kita identifikasi secara langsung karena prosesnya nampak atau dapat terlihat. Akan tetapi banyak juga yang menjadi korban tapi tidak berani melaporkannya, apalagi hal itu dianggap akan menjadi lebih parah karena menganggap akan lebih dibully lebih parah dari sebelumnya.

Apa saja contoh bullying fisik yang dapat diketahui? Misalnya yang berkaitan dengan tindakan seperti memukul, menendang, menampar, mencekik, menyikut, mencakar, meludahi anak atau seseorang sehingga terus menyudutukan mereka ke posisi yang sangat menyakitkan. 

Namun proses bullying ini tidak harus memberikan bekas fisik saja seperti memar di bagian tubuh yang terkena siksaan oleh pelaku. Melainkan jenis ini juga bisa memberikan bekas non fisik seperti yang ada paada pakaian mereka yang sobek atau biasanya barang-barang mereka yang sering dibawa terlihat rusak karena dihancurkan oleh pelaku. 

2. Bullying Verbal

Perilaku bullying memang bisa saja dialami atau dilakukan siapa saja entah itu anak-anak atau orang dewasa baik yang menjadi korbannya atau sebagai pelaku. Untuk itu jenis bullying inilah yang sering dilakukan atau paling umum oleh mereka dan banyak memakan korbannya.

Lantas apa saja contoh dari verbal bullying? Yaitu kita dapat mengenalinya dengan tindakan seperti celaan, memberikan julukan nama yang buruk padaa orang lain, fitnah dan bahkan pernyataan yang mengandung unsur pengajakan seksual. 

Tidak hanya itu aktivitas dari bullying secara verbal ini juga bisa dikenali seperti tindakan perampasan barang milik korban, kata-kata kasar atau pesan yang mengandung intimidasi dan tuduhan-tuduhan yang tidak benar atau gosip pada korbannya.

3. Bullying Relasional

Jenis bullying ini juga dikenal sulit untuk dideteksi dari luar, karena hal-hal yang dilakukan seperti melemahkan penghargaan diri pada seseorang yang menjadi korban penindasan. Hal itu juga dilakukan secara sistematis melalui pengabaian, pengecualian, atau upaya menyingkirkan korbannya dan hal ini juga dianggap alat penindasan yang paling kuat.

Seorang anak misalnya yang mungkin saja tidak akan mengetahui atau mendengar gosip dari pelaku, namaun mereka sebenarnya akan mengalami efeknya. Mereka akan mengetahuinya ketika mulai merasakan dirinya telah diasingkan oleh teman-temannya atau menolak untuk membangun hubungan pertemanan dengannya.

Contoh bullying relasional yang lain yaitu seperti adanya pandangan agresif, tertawa yang tujuannya untuk mengejek orang lain, bahasa tubuh yang mengaandung unsur seksual maupun kasar.

4. Cyber Bullying

Jenis bullying ini identik dengan perkembangan atau penggunaan teknologi informasi pada zaman sekarang. Sebagaiman kehadiran media sosial untuk mengirim pesan yang salah digunakan muali dari email, facebook, instagram, tiwiter, tik-tok dan media sosial lainnya. 

Cyber bullying yang dilakukan dengan pengunaan teknologi informasi seperti yang diuraikan di atas, sebenarnya dapat memberikan efek yang negatif pada orang lain. Hal ini karena adanya korban yang merasa tidak tenang maupun nyaman atau merasa dirinya sedang diawasi oleh orang lain atau pelaku.

Selaain itu contoh cyber bullying yaitu meninggalkan pesan yang kejam dan negative itu seperti mengirimkan pesan yang menyakitkan, menelpon terus-menerus namun tidak ada suara. Bahkan ada yang membuat sebuah media sosial/website yang bertujuan untuk membuat malu korban, dan sering disebarluaskan.

Selain dari jenis-jenis perilaku bullying yang disebutkan di atas ada juga beberapa lagi yang disebutkan oleh Zakiyah (2017, p. 329) yang mengatakan bahwa ada 5 jenis bullying, yaitu sebagai berikut:

  1. Kontak Fisik Langsung. Yaitu seperti memukul, menggigit, mencekik, menjebak, menendang, mengunci, mencakar, mencubit dan merampas serta merusak barang korban.
  2. Kontak Verbal Langsung. Yaitu seperti merendahkan, mengancam, mempermalkan, memanggil nama ejekan, mencela dan menyebarkan gosip.
  3. Perilaku Non Verbal Langsung. Yaitu seperti memandang orang dengan sinis, menurunkan jempol ke bawah, menjulurkan lidah, mimic muka yang merendahkan.
  4. Perilaku Non Verbal Tidak Langsung. Yaitu seperti menjauhi atau mendiamkan seseorang, menghancurkan persahabatan orang, menguciklan, mengabaikan.
  5. Pelecehan Seksual. Yaitu seperti suatu perilaku yang agresif secara fisik maupun verbal yang berisikan arah seks.

Faktor-Faktor Dan Penyebab Bullying

Setiap perilaku seseorang pada oraang lain tentunya baik yang bersifat positif maupun negaatif  sebenarnya ada penyebabnya. Begitupun dengan tindakan bullying ini, yang menurut Ariesto (2009) mengatakan bahwa ada faktor atau penyebab dari tindakan-tindakan yang mengarah pada bullying, yaitu sebagai berikut:

1. Keluarga

Salah satu faktor dari penyebab bullying adalah keluarga, hal ini sangat memungkinkan apabila terdapat penerapan pola asuh orang tua yang salah. Sehingga hal itu juga dapat berdampak pada perkembangan kepribadian atau kesehatan mental dari sang anak.

Seorang anak akan melihat dan seringkali menirukan apa yang dilakukan oleh orang tua pada mereka. Misalanya adanya perilaku orang tua ketika memberikan sangksi atau hukuman fisik dan keras yang sangat berlebihan serta situasi rumah yang penuh konflik maupun permusuhan.

Bahayanya lagi apabila perilaku yang dilihat seorang anak dari kedua orang tua mereka, dan kemudian hal yang sama itu dilakukan pada lingkungan sekitar atau ke teman-temannya. Hal inilah yang menjadi penyebab perilaku bullying yang sangat mempengaruhi perkambangan anak. 

2. Sekolah

Sekolah yang seharusnya menjadi tempat yang nyaman bagi anak untuk dapat berkembang dengan baik, kini bisa saja menjadi lingkungan yang justru melemahkan perkembangan dari anak-anak. Hal ini terjadi apabila pihak sekolah abai tentang perilaku perundungan yang terjadi dan tidak ada upaya untuk mengatasi hal itu agar tidak terjadi.

Contoh penyebab bullying yang terjadi di sekolah adalah kebijakan yang salah, atau pemberian sangksi yang cenderung dilakukan dengan kekerasan pada anak. Sehingga hal itu dapat menyebabkan hilangnya rasa penghargaaan diri pada anak dan tidak menumbuhkan rasa menghormati atau menghargai di lingkungan sekolah.

Apabila pihak sekolah tidak pernah mau melihat tentang fenomena bullying yang terjadi, dan tidak ada upaya dalam melakukan edukasi serta menciptakan ruang aman bagi anak-anak. Maka hal itu seperti membiarkan pelaku bullying terus ada dan korbannya semakin banyak.

3. Faktor Kelompok Sebaya

Faktor teman sebaya sangat memungkin seseorang untuk menjadi pelaku bullying, karena lingkungan ini menjadi tempat di mana individu selalu berinteraksi baik itu yang ada di lingkungan rumahnya atau teman sebaya di sekolah mereka. Lantas bagaimana faktor teman sebaya ini mempengaruhi seseorang untuk menjadi pelaku bullying?

Anak-anak misalnya yang selalu berinteraksi dengan teman-teman yang ada di lingkungan rumah maupun di sekolahnya, tentu mereka sangat ingin diterima oleh temannya agar bisa bermain bersama. Apabila lingkungannya cenderung berperilaku negatif seperti berkelahi, mengejek dan sebagainya maka anak-anak lain akan melakukan hal yang samaa agar bisa atau layak diterima oleh lingkungan tersebut.

4. Kondisi Lingkungan Sosial

Lingkungan sosial adalah hal yang begitu kompleks dan ini juga menjadi salah satu faktor terjadinya perilaku bullying, contohnya status sosial dalam kehidupan masyarakat seperti kemiskinan dan kekayaan. Hal ini juga sebenarnya dapat menentukan perilaku seseorang pada orang lain, apabila tidak ada unsur edukatif maka status ini akan memberikan dampak yang negatif.

Kemiskinan adalah salah satu contoh status sosial yang dapat menyebabkan perilaku bullying. Fenomena ini terlihat misalnya untuk memenuhi kebutuhan hidup, begitu banyak orang akan berbuat apa saja, yang terkadang menggunakan kekerasan. Misalnya ada seorang anak yang lahir dari keluarga miskin sering melakukan pemalakan pada temannya di sekolah. 

Tidak hanya kemiskinan, dalam lingkungan sosial bisa saja sebaliknya, yaitu mereka yang memiliki status sosial tinggi atau kaya. Seringkali akan menindas pada seseorang yang mempunyai status sosial yang lebih rendah dari mereka, seakan mempunyai segalanya. Untuk itu sangat penting menanam sifat empati baik bagi mereka yang berstatus sosial tinggi maupun rendah.

5. Tayangan TV dan Media Cetak

Tayangan baik itu darit televisi maupun media cetak dan digital sangat memungkinkan menjadi penyebab seseorang berperilaku bullying. Hal ini juga ditegaskan oleh beberapa hasil survei sebagaimana yang diuraikan oleh Zakiyah (2017) mengatakan bahwa 56,9% anak cenderung meniru adegan-adegan film yang ditontonnya, umumnya mereka menirukan gerakannya 64%, kemudian kata-katanya 43%. 

Untuk itu peran orang tua sangat di perlukan ketika anak masih tahap tumbuh dan berkembang, karena sifat anak adalah meniru apa yang terjadi di sekelilingnya, apabila orang tua membiarkan hal yang tidak positif itu masuk pada diri mereka maka itu berpengaruh pada perilakunya di masa depan.

Dampak Perilaku Bullying

Apa saja dampak dari perilaku bully? Secara umum terdapat beberapa yang dapat diuraikan mengenai dampak dari seseorang akibat mengalami perilaku bully. Untuk itu hal ini akan diuraikan, yaitu sebagai berikut:

1. Depresi dan Kecemasan

Depresi adalah salah satu bentuk gangguan kesehatan mental yang berkaitan dengan alam perasaan manusia (afektif atau mood), kemudian ditandai dengan kemurungan, kesedihan, lesuh, kehilangan gairah hidup, putus asa, merasa tidak berguna dan bahkan kehilangan penghargaan diri (Iyus Yosep (2007).

Anak-anak, remaja maupun orang dewasa yang menjadi korban bullying cenderung mengalami depresi, dan akan merasa tertekan hingga berakibat gejala psikosomatis akibat cemas.

2. Gangguan Tidur

Dampak depresi ini juga akan yang disebabkan oleh tindakan bullying ini juga menjadi pengaruh pada pola tidur baik itu anak-anak, remaja maupun orang dewasa semakin tidak teratur. Mereka akan kesulitan tidur dan akan sering terbangun di tengah malam disebabkan mimpi buruk atau dibayang-bayangi perasaan tidak nyaman.

3. Muncul Perasaan Rendah Diri

Dampak dari perilaku bullying selain depresi dan gangguaan tidur juga sangat mempengaruhi kesehatan mental seseorang yang menjadi korbannya, yaitu adanya rendah diri atau mereka seakan-akan merasa tidak berguna lagi. 

Perasaan rendah diri ini tidak bisa dianggap sepeleh, karena sangat mengganggu kualitas seseorang dalam membangun hubungan dengan orang lain. Apabila mereka mengalaminya, maka adanya sikap mengasingkan dirinya dari orang-orang dan menciptakan trauma serta kehilangan kepercayaan pada orang lain.

4. Memiliki Keinginan Bunuh Diri

Sungguh sangat berbahayanya tindakan perundungan atau bullying ini, karena selain mengakibatkan korbannya depresi, kurang tidur dan merasa tidak berdaya. Sebenarnya dampak lain yang sangat menghawatirkan adalah adanya keinginan untuk bunuh diri.

Bagaimana tidak, mereka yang mengalami depresi terus-menerus sampai pada adanya pikiran bahwa merekaa tidak lagi berharga ini menjadikan bunuh diri sebagai pilihan terakhir untuk mereka. Untuk itu adakalnya kita harus memahami orang-orang di sekitar kita, minimal terus bersamanya, mendukung dan memberikan motivasi bahwa diri mereka sangat berharga bagi orang lain.

Referensi

Coloroso, B. 2007. The bully, the bullied and the bystander. New York: HarperCollins.


Olweus, D. 1999. Sweden. The nature of school bullying: A cross-national perspective. London & New York: Routledge. 


Zakiyah, E. Z. H., Sahadi Santoso, Meilanny Budiarti. 2017. Faktor yang mempengaruhi remaja dalam melakukan bullying. J Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, 4(2).


Rosen, L. H., DeOrnellas, K., & Scott, S. R. (2017). Bullying in School: Perspectives from School Staff, Students, and Parents. Texas: Springer.


Ariesto, A. 2009. Pelaksanaan Program Antibullying Teacher Empowerment. Retrieved Juni 12, 2017. In.


Yosep Iyus. 2007. Keperawatan Jiwa. Bandung: PT. Refika Aditama. 


Zakiyah, E. Z. H., Sahadi Santoso, Meilanny Budiarti. 2017. Faktor yang mempengaruhi remaja dalam melakukan bullying. J Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, 4(2). 

Post a Comment

Post a Comment