EjB3vSKmQo697EadCV9cGlL38GnDuoUNUgLqklCB
Bookmark

Kegelisahan Dan Peradaban

Penulis: AHMAD R. IDIN

Heroisme zaman memiliki catatan kaki yang kian kontradiktif, terutama saat kita melihat setiap waktu serta tempat perkembangannya. Bahkan setiap zaman mempunyai varian berbeda secara teoritis, akan tetapi lahir dari sebuah frasa yang sama yaitu dialektika. 

Didalam dialektika selalu memuat pertentangan dan bantahan. Tetapi pertentangan dan bantah-bantahan sebernarnya berasal dari sebuah kegundahan kebatinan maupun pemikiran, dalam hal ini kegelisahan. 

Kegelisahan dan Peradaban
Gambar. Kegelisahan dan Peradaban. Sumber. pixabay.com

Filosof Prancis Auguste Comte (F.M Suseno, 2005) menjabarkan pertumbuhan peradaban memiliki tiga tahap yakni Teologis, Metafisik, Dan positivistik. Teologis digambarkan sebagai fase yunani kuno saat mitos menjadi wahana pengetahuan, metafisik adalah arena filosof saat menggunakan rasio untuk mempersoalkan mitos, dan positivistik  adalah wacana ilmuan saat merumuskan realitas dengan sains.

Yunani setidaknya menjadi primadona terhadap titik awal pertumbuhan peradaban, dimana saat filsafat lahir sebagai sebuah metodologi pemikiran. Tak heran jika kelahiran filsafat dianggap gerbang utama bagi sebuah peradaban manusia. 

Filsafat sendiri berkembang dari sebuah kegelisaan para filosof atas kepercayaan masyarakat yunani yang lebih condong pada mitos, sehingga dianggap sangat bertentangan dengan pengethuan manusia. 

Disinilah peradaban baru itu lahir saat manusia menjadi subjek kebenaran dengan instrumen pengetahun yang manusia miliki lalu merumuskan berbagai bentuk, diantaranya kehidupan sosialnya, budayanya, hukum dan politik mereka. 

Pada abad pertengahan ketika kaum skolastik merajalela dengan pemikiran mereka karna gelisah dengan pemisahan akal dan iman oleh banyak filosof dan mengakibatkan banyak menusia mulai redup dengan keimanan mereka akibat akal dianggap sangat dominan, sehingga membuat kaum skolastik menggugat pemisahan itu. 

Gugatan itu berlandaskan bahwa pada esensinya akal dan iman (wahyu) berasal dari yang satu (Tuhan) olehnya yang satu itulah kebenaran.Pertentangan pemikiran demikian juga terus menghiasi hingga melahirkan sains lalu zaman disebut dengan zaman modernisme. 

Dasarnya hanya satu yaitu sebuah kegelisaan manusia sehingga mengekpresikan instrumen pengetahun dan sumber pengetaahuanya untuk digunakan dalam hal merumuskan kembali lingkungan sosialnya. 

Tak heran jika saat kita menjangkau lalulintas peradaban yang berisi sejuta pemikiran mulai dari para filosof, seniman, dan ilmuan saat menyumbang untuk melahirkan setiap peradaban merupakan hasil kegelisaan mereka. Kegilasaan merekapun sangat bervariasi di setiap tempat maupun zaman, tergantung situasi sosial apa yang mereka hadapi.

Secara otomatis kegelisaan dan pertumbuhan peradaban adalah sepasang dari sebuah hukum dialektika. Jika tidak ada salah satunya maka keduanya tidak ada. Sebab keduanya adalah buah dari reproduksi pengetahuan manusia secara fitrawi.

Sebagai aspek fitrawi keduanya akan terus aktif secara berkala di setiap lalulintas kehidupan manusia, semua berhenti terkecuali manusia sendiri berakhir. Itulah mengapa setiap filosof atau ilmuan yang menumbuhkan peradaban disetiap zaman terisi dengan anasir-anasir kegelisaan. Mulai dari thales, socrates, plato, aristoteles, Auguste Comte dan Nietzsche.

Post a Comment

Post a Comment