EjB3vSKmQo697EadCV9cGlL38GnDuoUNUgLqklCB
Bookmark

Apa itu Victim Mentality atau Playing victim?

Hal-hal buruk mungkin seringkali terjadi baik itu pada diri kita atau orang lain dalam kehidupan ini. Tetapi ada beberapa orang yang mengklaim itu bukan kesalahan mereka dan berpendapat bahwa mereka tidak memiliki kendali atas situasi dan masalah sulit yang mereka hadapi. 

Artinya seringkali kita merasa tidak bisa mengontrol situasi atau masalah yang menimpa kita, yang kemudian melemparnya pada orang lain dan membuat diri kita seakan-akan menjadi korban dari situasi tersebut.

Di sisi lain, apakah kita terus-menerus merasa seolah-olah tidak memiliki kendali atas situasi atau bahwa orang lain ingin menyalahkan kita? atau apakah merasa seolah-olah hal-hal buruk terus terjadi pada kita, apapun yang telah kita lakukan? 

Apa itu Victim Mentality atau Playing Victim?
Gambar. Playing victim atau victim mentality.
Sumber. pixabay.com

Apa itu Playing Victim atau Victim Mentality?

Apa yang dimaksud dengan playing victim? Istilah ini sebenarnya memilki beberapa sebutan lain secara umum seperti victim mentality, victim syndrome dan victim complex. Namun beragam sebutan ini mempunyai arti yang sama, yaitu merujuk pada perilaku yang seolah-olah mereka adalah korban.

Maksudnya arti dari playing victim adalah sikap atau cara seseorang yang memposisikan dirinya menjadi koraban terhap suatu peristiwa, walaupun sebenarnya dirinyalah yang menjadi pelaku. Mereka juga orang yang cenderung pada tindakan manipulatif.

Bahkan mereka yang dikatakan sebagai pelaku playing victim selain memposisikan dirinya sebagai korban atau merekalah yang terluka terhadap suatu peristiwa, mereka juga sering mengambil sikap untuk melemparkan kesalahan seolah-olah orang lain yang melakukannya dan bahkan menyalahkan mereka sebagai korban yang sebenarnya.

Ciri-Ciri Playing Victim?

Lantas apa ciri-ciri playing victim? Tentunya kita dapat melihat orang-orang seperti ini dengan tanda-tanda apabila mereka suka menunjukan perilaku yang suka menyalahkan atau mengorbankan orang lain, dengan tujuan untuk menanggung apa yang mereka rasakan, atau membebani orang dengan keselahan yang mereka lakukan.

Tidak hanya itu ciri-ciri orang playing victim ini juga selain cenderung menyeret orang lain untuk menanggung keselahan yang mereka lakukan, di sisi lain perilaku orang dengan mentalitas korban seperti juga memilki tanda-tanda cenderung menyakiti orang yang telah membantu mereka. Adapaun beberapa ciri-ciri lain, yaitu akan diuraikan sebagai berikut:

1. Menghindar dari Tanggung Jawab

Seseorang yang memilki ciri-ciri perilaku playing victim adalah salah satunya cenderung menghindar dari tanggung jawab. Hal ini karena mereka merasa seolah-olah peristiwa atau kesalahan itu bukanlah dilakukan olehnya, sehingga mereka merasa orang lainlah yang harus bertanggung jawab.

Hal ini menandakan bahwa pelaku playing victim adalah orang cenderung memilki target, untuk siapa yang dijadikan sebagai korbannya. Maksudnya target ini dijadikan seolah-olah merekalah yang melakukan keselahan tersebut, walaupun itu bukan hal yang sebenarnya. Dengan kata lain menghidar dari tanggung jawab dengan mengorbankan orang lain.

2. Merasa Tidak Berdaya

Ciri lain dari orang yang mempunyai perilaku playing victim adalah merasa tidak berdaya. Maksudnya apabila mereka melakukan suatu kesalahan atau bisa di bilang kejahatan dan mereka merasa tidak memilki kemampuan untuk menyelesaikannya atau mengubah situasi tersebut, maka dari situlah pelaku playing victim akan beraksi mencari korbannya. 

3. Terlibat dalam Negative Self-Talk

Victim mentality atau orang yang selalu merasa menjadi korban mempunyai keyakinan seperti: "Segala sesuatu yang buruk terjadi padaku.” “Aku tidak bisa berbuat apa-apa, jadi mengapa mencoba?" “Saya pantas menerima hal-hal buruk yang terjadi pada saya.” “Tidak ada yang peduli padaku.”

Mereka selalu dikelilingi pikiran negatif tidak mau untuk berupaya mencoba memahami masalah dan mencari solusi. Semuanya selalu terkungkung dalam pikiran negatif tersebut, sehingga hal ini akan memebuatnya sulit untuk bangkit.

Adanya perasaan keraguan pada diri sendiri sudah terkait erat dengan menjadi victim mentality. Begitu seseorang jatuh pada victim mentality, secara tidak sadar mereka akan memengaruhi diri sendiri dengan upaya terbaik mereka agar sesuai dengan kemauan mereka. 

Jika kita percaya bahwa pribadi kita tidak layak, maka akan selalu merasa seolah-olah dunia sedang berusaha untuk menjatuhkan kita. Kemudian hal itu akan membuat seseorang yang mengalaminya merasa wajar ketika sedang merendahkan dirinya dan sulit untuk memotivasi dirinya.

4. Berpikir Bahwa Dunia Sedang Berusaha Menjatuhkanmu

Dunia adalah tempat yang berbahaya bagi orang-orang dengan mentalitas korban (victim mentality). Mereka harus selalu bersiap untuk yang terburuk, karena  menganggap dunia dipenuhi dengan orang-orang yang ingin menyakiti mereka.

Bagi mereka ini adalah lingkungan yang keras dari para korban, pelaku dan penyelamat sesekali. Locus of control mereka cenderung eksternal, yaitu mereka percaya bahwa apa yang terjadi pada orang bergantung pada peristiwa di luar kendali mereka, (Vries: 2014).

5. Manipulatif

Selanjutnya, ciri-ciri orang playing victim adalah manipulatif. Menurut (Vries: 2014) orang yang rentan terhadap sindrom korban (victim mentality) juga ahli manipulasi, yang dapat membuat interaksi dengan mereka menyebalkan. 

Di sisi lain hampir seolah-olah mereka mengundang orang untuk membantu mereka, hanya untuk membuktikan kemudian bahwa upaya orang yang membantu mereka sia-sia dan bahkan mencoba membuat orang yang membantu merasa bersalah.

Mereka sangat lihai membalikkan keadaan dan mengklaim bahwa upaya orang yang membantu mereka dianggap sebagai merusak mereka saja. Hal ini dapat mempengaruhi perilaku mereka sedemikian rupa sehingga benar-benar menyebabkan harapan tersebut terpenuhi.

Victim mentality juga menjadikan hubungan dengan orang menjadi beracun atau toxic relationship, sehingga kita perlu mencari akar dari masalah ini agar tercipta suatu hubungan yang sehat.

Baca juga:

Apa Penyebab Playing Victim?

Playing victim adalah perilaku yang ditunjukkan oleh beberapa individu yang menggambarkan dirinya sebagai korban dalam berbagai situasi, seringkali untuk mendapatkan simpati, perhatian, atau menghindari tanggung jawab atas tindakannya. Meskipun motivasi setiap orang mungkin berbeda-beda, ada beberapa penyebab umum yang dapat menyebabkan perilaku ini:

1. Mencari Perhatian (Attention-Seeking)

Beberapa individu mungkin terlibat dalam peran sebagai korban sebagai cara untuk mencari perhatian dan validasi dari orang lain. Dengan menampilkan diri sebagai korban, mereka berharap mendapat simpati dan dukungan dari orang-orang di sekitarnya.

2. Manipulasi (Manipulation)

Bermain sebagai korban bisa menjadi taktik manipulatif yang digunakan oleh individu untuk mengontrol atau mempengaruhi orang lain. Dengan menjadikan diri mereka sebagai korban yang tidak berdaya, mereka mungkin mencoba mendapatkan kekuasaan atau keuntungan dalam situasi atau hubungan tertentu.

3. Menghindari tanggung jawab (Avoiding Responsibility)

Orang dapat menggunakan peran korban sebagai sarana untuk menghindari tanggung jawab atas tindakan atau keputusan mereka sendiri. Dengan menggambarkan diri mereka sebagai korban, mereka dapat mengalihkan kesalahan kepada orang lain atau keadaan eksternal, sehingga menghindari konsekuensinya.

4. Harga diri rendah (Low Self-Esteem)

Beberapa individu dengan harga diri rendah dapat mengadopsi peran korban sebagai mekanisme pertahanan. Mereka mungkin percaya bahwa dengan menampilkan diri mereka sebagai korban, orang lain akan menganggap mereka tidak berdaya dan membantu mereka, yang dapat meningkatkan harga diri mereka untuk sementara.

5. Perilaku yang dipelajari (Learned Behaviour)

Dalam beberapa kasus, bermain sebagai korban dapat menjadi perilaku yang dipelajari yang diperoleh melalui pengalaman masa lalu. Jika individu telah mengamati orang lain berhasil menggunakan korban untuk memanipulasi atau mendapatkan simpati, mereka dapat meniru perilaku tersebut untuk mencapai hasil yang serupa.

Penting untuk diperhatikan bahwa korban asli dari trauma atau kesengsaraan dapat menunjukkan perilaku playing victim. Dalam kasus ini, sangat penting untuk mendekati situasi dengan empati dan pengertian, karena perilaku mereka mungkin berasal dari tekanan yang sebenarnya atau trauma yang belum terselesaikan.

Namun, penting juga untuk mengenali ketika seseorang menggunakan peran korban sebagai taktik manipulatif atau sebagai sarana untuk menghindari tanggung jawab. Mendorong komunikasi terbuka, mempromosikan akuntabilitas pribadi, dan membina lingkungan empati dan dukungan dapat membantu mengatasi penyebab mendasar ini dan mendorong interaksi yang lebih sehat.

Kesimpulan

Kita perlu mengingatkan diri kita sendiri bahwa kita tidak hanya bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan, tetapi juga atas apa yang tidak kita lakukan. Seperti yang pernah dikatakan novelis Joan Didion, ''Kesediaan untuk menerima tanggung jawab atas hidup sendiri adalah sumber dari mana harga diri muncul.'' 

Mengambil tanggung jawab pribadi adalah suatu keharusan. Kita tidak dapat mengubah keadaan, musim, atau cuaca, tetapi kita dapat mengubah diri kita sendiri (Vries: 2014)

Pada saat yang sama, kita perlu menunjukkan belas kasihan pada diri sendiri sehingga kita dapat melewati situasi ini dan mencari bantuan jika diperlukan. Terus berdiam dalam pola pikir victim mentality membuat kita merasa tidak berdaya dan tidak dapat memulai perubahan dalam hidup kita.

Meskipun mungkin sulit bagi kita untuk keluar dari pikiran buruk ini, tapi berani  mengambil langkah-langkah kecil yang konsisten, pada akhirnya kita akan mencapai tujuan yang dituju. Selain itu akan lebih mudah bagi orang lain untuk mendukung kita sepanjang jalan ketika diri terbuka untuk menerima saran dari orang lain.

Referensi

Vries,  Kets de, Manfred. 2014. Are you a victim of the victim syndrome?. Organizational Dynamics (2014) 43, 130—137.

Post a Comment

Post a Comment