EjB3vSKmQo697EadCV9cGlL38GnDuoUNUgLqklCB
Bookmark

Pasar Kepribadian

Ketika mendengar kata pasar, mungkin dalam pikiran orang akan menuju pada tempat-tempat dimana banyak terjadi penawaran barang dan jasa atau menjual produk-produk yang diikuti dengan sebuah transaksi tertentu. Pemahaman semacam ini memang tidak ada salahnya, fenomena pasar tentang bertemunya penjual dan pembeli telah tergambarkan dalam pikiran kita. Namun apa yang menjadi hubungan pasar dengan kepribadian?

Pasar Kepribadian
Gambar. Pasar kepribadian. Sumber. pixabay.com

Dalam kehidupan pasar yang kita kenal, orang akan membuat sesuatu semenarik mungkin dengan melihat apa yang diinginkan pasar untuk dijual. Begitupun dengan kepribadian, dalam kehidupan moderen saat ini pasar bukan hanya menjadi tempat orang-orang menjual atau mencari produk/jasa untuk dikonsumsi, melainkan bagaimana membuat suatu kepribadian agar laku dipasar dan itu menjadikannya sebagai kesuksesan dalam suatu nilai tukar. 

Perasaan kita akan penghargaan, penilaian, dan kebanggan tergantung pada bagaimana keberhasilan kita dalam menjual diri kita. Erich Fromm dalam bukunya Man for Himself (2020) mengatakan kesuksesan secara luas bergantung pada bagaimana baiknya seseorang menjual dirinya di pasar, dan bagaimana orang membungkus dirinya agar terlihat lebih baik untuk memenuhi syarat permintaan. 

Pengertian Kepribadian

Kepribadian selalu dihubungkan dengan personality dari Bahasa Inggris yang berasal dari Yunani kuno prosopon atau persona, artinya ‘topeng’ yang biasa dipakai artis dalam teater. Para artis itu bertingkah laku sesuai dengan ekspresi topeng yang dipakainya, seolah-olah topeng itu memiliki ciri kepribadian tertentu. Jadi konsep awal dari pengertian personality (pada masyarakat awam) adalah tingkah laku yang ditampakan ke lingkungan sosial kesan mengenai diri yang diinginkan agar dapat ditangkap oleh lingkungan sosial, Alwisol (2017). 

Dalam hal ini suatu kepribadian seseorang yang merasa senang, misalnya akan menampakan hal tersebut di lingkungannya, namun apa yang nampak tersebut adalah keinginannya menjadi sesuatu. Jika topeng yang dikenakan itu tersenyum maka yang ia nampakan juga seperti itu, walaupun dalam dirinya penuh dengan kesedihan, seakan orang melakukan hal itu hanya untuk sebuah kehidupan yang seperti panggung pertunjukan.

Keberhasilan atau kegagalan tidak bergantung pada mengembangkan kapasitas-kapasitas produktif sampai pada tingkat yang sangat penuh, juga tidak pada integrasi, pengetahuan, atau keterampilan-keterampilan, melainkan pada bagaimana baiknya kita memproyeksikan diri kita pada orang-orang lain. 

Hal ini terjadi karena manusia merasa terpisah dengan alam, sehingga rasa akan kesepian dan ketakberdayaan menghantui mereka, untuk itu dengan segala upaya setiap orang ingin membuat penyatuan dengannya, dan pengalaman ini membuat orang ingin diakui keberadaannya di dunia. Dari sini kita akan melihat bahwa dengan usaha membuat orang-orang mengakui dirinya, maka dari sinilah orang akan menjual kepribadiannya di pasar. 

Seorang perempuan akan berusaha terlihat cantik dan menarik, untuk itu juga ia akan mencari cara agar ide tentang cantik itu terealisasi. Entah itu dengan membeli produk-produk kecantikan, yang setiap hari ia harus sibuk menata dirinya dari ujung kepala sampai kaki hanya untuk diperhatikan dan mendapatkan pengakuan maupun perhatian dari orang lain, khususnya laki-laki.

Sebagaimana perasaan sepasang sepatu dalam dunia perdagangan, mereka akan berpikir bagaimana menjadi semenarik mungkin agar dapat merangsang pelanggan dan tampak semahal mungkin untuk memperoleh harga tertinggi daripada pesaingnya. 

Sepasang sepatu yang dibeli dengan harga tinggi akan menjadikan perasaannya senang dan gembira, dan menjadikan itu sebagai keberhasilan atau kesuksesan untuk dirinya. Namun sepasang sepatu yang tidak dibeli dengan harga tinggi bahkan tidak laku dan menjadi kumuh di tempat pajangan akan bernasib buruk, merasa sedih dan merendahkan dirinya karena tidak dapat menarik pelanggan sebab sudah ketinggalan zaman, maupun perubahan mode yang tak sanggup ia tawarkan.

Orang-orang ingin diakui keberadaannya dengan menjadikan dirinya seperti yang dinginkan orang lain. “Aku adalah sebagaimana engkau menginginkan aku”, Fromm(2020:95). Hal ini tidak hanya berlaku pada perempuan, melainkan kaum laki-laki juga menjadikan dirinya oleh permintaan pasar. 

Seorang lelaki berusaha mencari apa yang ia miliki untuk ditampilkan entah itu harta, popularitas, maupun tubuh ideal yang setiap saat ia mengeluarkan energi dengan berolahraga bukan untuk kesehatan melainkan untuk laku di pasar kepribadian.

Menuju Pasar Kepribadian

Sistem pasar telah menggerogoti manusia untuk menampilkan dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Keadaan seperti ini perempuan dan laki-laki juga telah menjadi seperti pasar dalam mengejar permintaan, seorang perempuan harus tampil cantik hanya untuk laku dipasar lelaki, dan laki-laki harus berusaha keras untuk menampilkan dirinya yang ideal agar laku di pasar perempuan. Bahkan orang akan berusaha pura-pura baik agar laku di pasar kepribadian

Kita menjalani kehidupan sudah seperti seorang padagang dan bahkan sudah menjadi seorang pelacur. Jika pelacur kita pahami sebagai seseorang yang perdagangkan tubuhnya demi mendapatkan bayaran seperti Pekerja Seks Komersial (PSK). Akan tetapi saat ini istilah pelacur tidak hanya sampai di situ,  namun dalam konteks pasar kepribadian kita akan menemukan pelacur intelaktual, yakni menjual apa yang dimilikinya seperti ide untuk diperdagangkan kepada kaum oligarki, kapitalis, hinga partai politik dan senayan.

Diri kita sebenarnya mempunyai potensi dalam kehidupan, namun bukannya di asah sedemikian mungkin untuk menjadi pribadi yang produktif, akan tetapi menjadikan pribadi kita seperti komoditi dan hanya untuk mengejar permintaaan pasar. Hal ini akan menjadikan pribadi yang ketergantungan atau dalam istilah Fromm yaitu mashokistik, sebab keberadaan diri tergantung pada keinginan orang lain, dan pengakuaan bahkan pujian yang didapatkan menentukan keberadaannya.

Kita harus menjadi pribadi yang produktif sebagaimana kata Fromm(2020:109), keproduktifan adalah kemampuan manusia untuk memanfaatkan kekuatan-kekuatannya dan mewujudkan potensialitas-potensialitas yang inheren di dalam dirinya. Artinya kekuatan yang ada pada diri dimanfaatkan agar hidup tidak bergantung dengan orang lain, dan kekuatan itu ia harus dibimbing dengan cinta dan nalar yang produktif, (Bersambung...)

3 comments

3 comments

  • S.R. Hambali
    S.R. Hambali
    October 18, 2022 at 2:33 AM
    Sangat menarik abang, izin untuk bagikan🙏
    Reply
  • Kaisyar
    Kaisyar
    November 9, 2020 at 1:25 AM
    Menarik eks Kabid 🙏
    • Kaisyar
      Rifaldi Sulaiman
      November 9, 2020 at 3:39 PM
      Mkasih jga Kabid
    Reply