EjB3vSKmQo697EadCV9cGlL38GnDuoUNUgLqklCB
Bookmark

Terdidik itu Memberontak

“Jangan kau penjarakan ucapanmu, jika kau menghamba pada ketakutan, kita akan memperpanjang barisan perbudakan” (Widji Thukul, Aktivis anti penindasan)

Prinsipnya, sifat ‘liar’ berpotensi mengancam tertib sosial, lalu memproduksi gejala dehumanisasi di atas panggung peradaban. Dari sinilah pendidikan di butuhkan untuk membentuk kepribadian, tujuan ini yang oleh Paulo Freire akan menciptakan pribadi pembebas, yang disebutnya sebagai “kemanusiaan yang lebih utuh” (William A. Smith, 2008).

Terdidik Itu Memberontak
Gambar. Terdidik Itu Memberontak. Sumber. pixabay.com


Bagaimanakah Pendidikan Hari Ini?

Perspektif eksistensialis benar-benar terganggu akan apa yang mereka dapatkan pada kemapanan pendidikan, mereka dengan segera menegaskan bahwa banyak dari apa yang di sebut pendidikan sebenarnya tidaklah apa-apa, kecuali propaganda yang di gunakan untuk memikat para peserta didik.

Mereka juga mengungkapkan bahwa banyak dari apa yang dewasa ini dianggap pendidikan sejatinya sesuatu yang membahayakan, karena ia menyiapkan para audiensuntuk konsumerisme atau menjadikannya tenaga ‘modern’. Dalam kata-kata Samuel Bowles dan Herbert Gintis “...sekolah membentuk murid di luar kehendak sang murid sendiri supaya menjadi produk masyarakat” (Freire, Illich, dan Erich Fromm, et. al, 2015).

Pendidikan dijadikan cara untuk melanggengkan doktrin tertentu dan sebagai alat hegemoni kekuasaan, peserta didik hanya dijadikan objek dan dilatih untuk menjadi penurut dengan tujuan keseragaman nasional. Apabila ini terjadi, maka pendidikan tidak lagi mampu menjadikan manusia pembebas, tetapi justru menjadikan manusia sebagai robot-robot kekuasaan yang tidak bisa berpikir secara kritis terhadap realitas. 

Kenyataan inilah yang kemudian menjadikan manusia mengalami kehampaan eksistensi sebagai manusia. Gejala sederhana yang sering kita temui adalah ketika yang di didik hanya diam dan tak bisa merasakan apa yang saat ini terjadi pada mereka. 

Ini banyak terjadi ketika seseorang merasa takut, misalnya dia melihat akan suatu kebohongan atau kekeliruan terhadap apa yang di sampaikan untuk dirinya sedangkan dia sadar akan hal itu dan tetap diam. Yang didik tetap saja tunduk dan dikuasai meskipun mereka mengetahuinya, tapi takut akan kebebasan, kendati mereka percaya pada dirinya ada tuntutan moril untuk ‘bebas’. 

Mereka mengikuti peraturan dan preskripsi, umum seolah-olah menjadi pilihanya sendiri, dan selalu di arahkan. Tidak mengarahkan dirinya sendiri. Gejala ini yang di sebut Paulo Freire sebagai kesadaran magis, kemudian naif. Jika eksistensi manusia adalah ‘kebebasan’ itu sendiri, maka tekanan ini sangat kontras dengan ‘kemapanan’ saat ini. 

Demikian, eksistensi yang mestinya diahadirkan menemui jalan buntu dan terperangkap pada relasi ‘subjek-objek’ di dalam tradisi mendidik. Dalam penalaran berbau eksistensialis, pendidikan adalah proses mengupayakan, agar yang di didik menyadari ‘aku-nya’ sebagai subjek yang memilih, utuh, merdeka, dan bertanggung jawab. 

Ikhtiar seperti itu memiliki makna bahwa sang pendidik tak selalu di posisikan sebagai yang memiliki jawaban benar dan tak terbantahkan dalam segala hal. Jika konsepsi ini ‘sengaja’ tidak diterjemahkan, ‘diasingkan’ dari ruang pendidikan maka yang akan tumbuh adalah benih-benih “pemberontak”. Rupa–rupanya term ‘pemberontak’ terlanjur di maknai dalam pengertian yang ‘negatif’. 

Mungkinkah ini semacam ‘provokasi psikologis’ dari individu-individu yang alergi akan perubahan, yang merasa menggigil ketika reputasi, nama besar, bahkan kekuasaannya terancam ? Jika ini yang terjadi, maka kita terjebak ke dalam apa yang disebut Jalaluddin Rakhmat sebagai penyakit nalar ‘argumentum ad verecundiam’.

Dalam konteks ini, lahirnya ‘pemberontak’ adalah konsekuensi logis dari proses pengekangan berpikir. Dalam perspektif eksistensialis, pemberontak dapat terjadi karena ruang kesadaran generasi di isi dengan tuntutan ‘hidup’ bukan tuntutan ‘ada’. Dalam dialek sehari-hari, seringkali kita dengar ‘percuma anda hidup’ kalau tidak begini, begitu dan seterusnya’. Kira-kira semacam itulah yang mengarah pada ‘krisis eksistensialis’.

Sebuah sistem pendidikan yang terlalu mamaksakan seseorang untuk selalu menjadi objek adalah suatu penindasan akan kebebasan berfikir. Jika proses seperti ini terus membeku, maka yang di didik akan mencari ‘ruang alternative’ untuk memahami kenapa ia secara pribadi merasa tidak bebas, tidak merdeka, padahal naluri kemanusiaan menuntut akan hal itu. 

Muatan kegelisahan semacam inilah yang menjadi penunjuk pada proses penyadaran. Sebaliknya anak didik yang bermental sektarian, tidak akan pernah dapat melakukan ‘revolusi’ yang benar-benar membebaskan karena mereka sendiri tidak bebas. Mereka turut menjaga proses ‘kebekuan’ yang terjadi (Paulo Freire, 2015). Demikianlah, melahirkan ‘pemberontak’ adalah menciptakan penyadaran. 

Dalam berbagai khazanah pendidikan, inilah yang di sebut kesadaran kritis. Prinsipnya, ini tidak hanya dikumandangkan oleh kesohor pendidik, semisal Paulo Freire, tetapi juga Nelson Mandela, Tan Malaka, Sukarno, Mahatma Gandhi, Ki Hadjar Dewantara, Hatta, hingga Bunda Teressa. Mereka berani memberontak atas sebuah penindasan dalam bentuk apapun.

Inilah kesadaran kritis, sebuah kesadaran yang keluar dari suatu bangunan pikir yang logis-realistis. Hanya dengan kapasitas seperti itu, kita dapat mengurangi bagaimana ‘penindasan’ terjadi, siapa yang di tindas, siapa pula yang menindas. Dalam retorika ‘marxis’, orang memiliki mental untuk ‘memberontak’, jika dia memahami-merasa bahwa dia benarbenar dan sementara di tindas.

Sebagai akhir, saya mengajak kepada seluruh ‘yang di didik’ untuk berani mendobrak pola mendidik yang menindas, hegemonik, dan tidak humanis. Eksistensi kita sebagai pembelajar di tantang untuk berbuat, bertindak demi nama kemanusiaan. Sekali lagi rindu ini memmuncak untuk sosok pemberontak sejati. Insya Allah.

Post a Comment

Post a Comment